Mahasiswa UMS ciptakan inovasi sarung tangan infus untuk anak

id Ums, sarung tangan infus, surabaya

Mahasiswa UMS ciptakan inovasi sarung tangan infus untuk anak

Mahasiswa UMS menunjukkan inovasi sarung tangan infus untuk anak ciptaan mereka di kampus setempat, Kamis (11/7/2019). (Willy Irawan)

Jadi sarung tangan infus mencegah risiko infeksi dari spalkĀ untuk mengunci sendi agar tidak gerak. Mengurangi rosiko cidera akibat dari tonjolan infuset, mengungari stres hospitalisasi pada anak, mudah di observasi untuk akreditasi rumah sakit
Surabaya (ANTARA) - Empat mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya yakni Putri Lidiyanti, Fatma Aula Nursyifa, Finka Yuanita, Riskiatul Mutamimah menciptakan inovasi sarung tangan infus untuk anak yang diberi nama Sarang Infus.

Putri Lidiyanti ditemui di kampus setempat, Kamis mengatakan sesuai namanya, sarung tangan infus ini bertujuan mencegah risiko infeksi dari spalk untuk mengunci sendi agar tidak gerak.

"Fungsinya hampir sama dengan produk yang ada di pasaran, tapi dalam penggunaannya produk yang ada masih belum dapat memenuhi fungsi pengurangan 'hospitalisasi' pada anak," kata Putri.

Putri mengungkapkan ide menciptakan inovasi sarung tangan infus berawal dari persoalan yang sering terjadi di rumah sakit. Dimana akibat tonjolan dari infuset yang mengakibatkan cedera pada palpebra (kelopak) mata dan konjuntiva mata.

Dari masalah itu, kelompoknya membuat inovasi, yang awalnya ada beberapa generasi untuk mengatasi risiko cedera. Setelah itu kelompoknya mulai membuat riset dan menekankan pada desain dan manfaat yang lain.

Sarang infus berbahan dari katun (menyerap keringan), spons dan duplek (viksasi bagian dalam untuk mengunci) dan elastis banded. Untuk desain, Putri dan kelompoknya masih menggunakan karakter wayang. Dari desain itu, masyarakat merespons dengan baik.

"Jadi sarung tangan infus mencegah risiko infeksi dari spalk untuk mengunci sendi agar tidak gerak. Mengurangi rosiko cidera akibat dari tonjolan infuset, mengungari stres hospitalisasi pada anak, mudah di observasi untuk akreditasi rumah sakit," katanya.

Pihaknya sejauh ini sudah mematenkan produknua inovasinya dan masih berusaha untuk memproses SNI. "Ke depannya akan menambah karakter sesuai permintaan konsumen di RS," ujarnya.

Dosen Keperawatan Anak UMS yang juga pebimbing kelompok Gita Marini menuturkan, kekurangan sementara pada inovasi tersebut ialah riset ilmiah yaitu riset pasar, "positioning" dan segmentasi produk sarang infus.

Sampai saat ini baru RS Siti Khadijah di Sidoarjo dan klinik bersalin Siti Aisyiah Ibu dan Anak di Surabaya yang sudah menggunakan.

Mengenai desain, untuk keberlangsungan pemesanan, pihak CV telah melakukan uji ckba sudah pesan 300 PC, dan diedarkan ke rumah sakit.

"Satu hari kami bisa produksi 10 sarung tangan. Dan kita kasih wawasan untuk kerjasama dengan konveksi. Hak cipta tetap ikut kami. Sementara proses paten produk ini masih kami tunggu," tuturnya.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar