Keterbatasan Fisik Tak Halangi Qomar Kembangkan Melon

id Qomar, Menteri BUMN di Lamongan,Qomaruzzaman petani Lamongan

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Qomar Kembangkan Melon

Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) berbincang dengan Direktur Utama BRI Suprajarto (kiri) dan Bupati Lamongan Fadeli (kiri) serta petani tunadaksa Qomaruzzaman (kedua kiri) ketika memanen melon saat kunjungan kerja di Lamongan, Jawa Timur, Kamis (27/9). Antara Jatim/Zabur Karuru/18

Meski memiliki keterbatasan, perjuangan Qomar di bidang pertanian tidak perlu diragukan, dirinya sempat menekuni peternakan bebek selama setahun lebih, namun hasilnya kurang menguntungkan, bahkan rugi.
Senyumnya lepas.  Sinar matahari yang sangat menyengat di siang itu,  tidak membuat Qomaruzzaman atau yang akrab dipanggil Qomar lelah melayani wawancara para juru warta.

Qomar menjadi perhatian karena semangatnya yang luar biasa dalam budi daya melon di Desa Sendangharjo, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Kawasan itu sebelumnya dikenal kering dan gersang, namun pemuda kelahiran tahun 1987 menyulapnya, dan mampu membuat lahan kering menjadi produktif yang bermanfaat bagi penduduk setempat.

Hal lain yang membuatnya menjadi perhatian, yakni ketika bekerja dan bercocok tanam Qomar tidaklah seperti umumnya petani, maklum dia dilahirkan tanpa memiliki dua tangan.

Sehingga aktivitas sehari-harinya hanya menggunakan kedua kakinya, namun demikian hal itu tidak menyurutkan semangatnya melakukan hal terbaik baik bagi lingkungan Sendangharjo.

"Dalam bekerja sehari-hari saya menggunakan kedua kaki," kata Qomar yang bicaranya sangat lancar dalam menjelaskan pola menanam dan mengusir hama melon.
Apa yang dilakukan dan dikerjakan Qomar membuat Menteri BUMN Rini Soemarno kagum, bahkan Rini mengaku kedatangannya ke Lamongan sengaja ingin membuktikan langsung hasil panen melon kerja keras Qomar dan kawan-kawan.

"Saya senang melihat keberhasilan petani di Sendangharjo. Ini seperti harapan Bapak Presiden (Joko Widodo), agar petani bisa menjadi lebih baik," kata Rini.

Qomar mengelola tanah seluas 5.000m2, dan memiliki 5.000 tanaman melon yang menghasilkan rata-rata sebanyak 6-8 ton per panen dengan harga jual di kisaran Rp8.500 per kilogram (kg), sehingga hasil yang diperoleh di kisaran Rp51-68 juta sekali panen.

Langkah Awal 

Meski memiliki keterbatasan, perjuangan Qomar di bidang pertanian tidak perlu diragukan, dirinya sempat menekuni peternakan bebek selama setahun lebih, namun hasilnya kurang menguntungkan, bahkan rugi.
Kemudian, beralih ke budi daya melon dan kini sudah berjalan sekitar 5 tahun lebih hingga mampu ekspor ke Singapura sebanyak enam kali.

"Awalnya saya melihat teman-teman melakukan budi daya melon, dan saya mengikutinya. Namun pada saat pertama tanam gagal, tapi saya coba untuk kedua kalinya," ujar pria yang mengaku lupa bulan kelahiarannya.

Pada tanam kedua, Qomar mengaku berhasil panen namun tidak terlalu banyak, sehingga mencobanya kembali ke tanam ketiga. Dan ternyata gagal seperti pada tanam pertama.

 Kegagalan demi kegagalan tidak lantas membuatnya patah arang, mengacu pada kesuksesan tanam kedua yang cukup berhasil meski tidak terlalu banyak, Qomar mencobanya kembali ke tanam keempat.

Alhasil, pada tanam keempat dan kelima hingga seterusnya, upaya dan kesabarannya membuahkan hasil, dan mampu panen beberapa kali, bahkan tidak tangung-tangung panen dilakukan bersama Menteri BUMN Rini Soemarno.

"Saya kagum dengan upaya mas Qomar, dan menyempatkan hadir pada saat panen melon bersama masyarakat Desa Sendangharjo," kata Rini, dalam sambutannya.

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gempita, Ghufron Ahmad Yani yang selama ini mendampingi Qomar mengaku sempat menangis melihat upaya pemuda desa yang gigih berjuang di bidang pertanian, apalagi pemuda itu memiliki keterbatasan fisik.

Ghufron  mengatakan lembaganya yang merupakan bentukkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sengaja ditugaskan mencari pemuda di Indonesia yang gigih berjuang di bidang pertanian.

"Dan saat saya melihat pertama kali Mas Qomar di Desa Sendangharjo sempat menangis, sebab perjuangannya di bidang pertanian cukup kuat. Kami lantas bersama tim membimbing sejumlah pemuda desa Sendangharjo," katanya. 

Ia mengatakan, pengembangan Melon di Lamongan dilakukan tidak hanya mengandalkan pupuk kimia, melainkan dengan cara terpadu melalui "Green House" yang fungsinya mengurangi serangan hama pada melon.

Sebab, jika satu tanaman melon terserang hama, maka  seluruh tanaman tidak akan bisa panen atau menghasilkan. Oleh karena itu dibutuhkan cara terpadu, salah satunya melalui Green House.

"Kami terus mendorong petani dalam pengembangkan melon di sini, dengan analisa di lapangan kendalanya apa dan solusinya apa, sehingga petani mempunyai etos kerja yang bagus," katanya.

Ia berharap, dengan keberhasilan Qomar dan petani di Desa Sendangharjo dalam memanen melon, ke depan akan diupayakan membuat Green House di seluruh wilayah Sendangharjo.

Dorongan BUMN

Direktur Utama Bank BRI Suprajarto mengaku siap mendorong upaya petani di Kabupaten Lamongan untuk terus mengembangkan tanaman melon melalui bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Ia mengatakan, bantuan BRI ke petani melon Lamongan merupakan salah satu dorongan BUMN untuk pengembangan petani.

Dari total penyaluran KUR di Jawa Timur, khusus untuk sektor pertanian penyalurannya mencapai Rp2,43 triliun dimana sebesar Rp100,59 miliar disalurkan ke Kabupaten Lamongan.

 "Melalui pinjaman KUR BRI yang telah diberikan, diharapkan dapat meningkatkan skala usaha sehingga produktivitas meningkat, dan memberikan multiplier effect untuk petani melon di Lamongan," kata Suprajarto, usai kegiatan seremoni panen melon bersama Menteri BUMN Rini Soemarno dan Direktur Mikro & Kecil Bank BRI Priyastomo.

Dalam kesempatan panen bersama Menteri BUMN Rini Soemarno itu, Suprajarto juga menyerahkan secara sombolis KUR BRI dengan total sebesar Rp300 juta yang diberikan kepada empat nasabah. 

Terdiri dari dua nasabah penerima KUR Ritel masing-masing sebesar Rp150 juta dan Rp110 juta, dan dua nasabah lainnya untuk penerima KUR Mikro sebesar Rp 25 juta dan 15 juta.

Adapun bantuan tanggungjawab perusahaan yang diberikan oleh BRI ke petani Lamongan meliputi, 1 unit Cultivator Rotating (mesin pengolah tanah) untuk petani Qomar, dan 1 Hand Cultivator untuk Kelompok Tani Barokah, dan tiga Green House untuk masing-masing kelompok tani yakni kelompok takni Mulya Makmur, Sri Sadono, dan kelompok tani Trubus Subur. (*)

 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar