Mufti Anam, Impikan Ponpes Jadi Pusat Ekonomi Nasional

id Mufti Anam, HIPMI Jatim, Dokter Anam, Adik Azwar Anas, Banyuwangi, HIPMI

Mufti Anam, Impikan Ponpes Jadi Pusat Ekonomi Nasional

Mufti Aimah Nurul Anam (Malik Antara)

Dia adalah Mufti Anam, yang lahir di Banyuwangi, 24 Desember 1987 dengan nama lengkap Mufti Aimah Nurul Anam, dan kini berprofesi sebagai dokter.

Berlatar belakang sebagai anak pondok pesantren (ponpes), menjadikan pria ini mempunyai impian agar keberadaan ponpes bisa menjadi pusat ekonomi nasional.



Impian itu muncul, ketika dirinya terpilih menjadi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Timur dalam Musyawarah Daerah (Musda) yang berlangsung di Surabaya, Desember 2017.



Dia adalah Mufti Anam, yang lahir di Banyuwangi, 24 Desember 1987 dengan nama lengkap Mufti Aimah Nurul Anam, dan kini berprofesi sebagai dokter.



Impian itu wajar, sebab bidang kerja organisasi yang ia pimpin saat ini memang ada di ekonomi, sehingga hal itu berbanding lurus dengan visi dan misi organisasi.



Lulusan Ponpes Darus Sholah, Jember ini mengakui ponpes adalah institusi yang punya rekam jejak panjang dalam mendidik umat.



Dengan jumlah lebih dari 30.000 pesantren dan 5 juta santri serta puluhan juta alumnus di seluruh Indonesia, pesantren adalah entitas kuat yang tak hanya bisa menjadi pilar pendidikan umat, tapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi umat.



Mufti mengatakan, impian itu coba diwujudkan dengan program Pesantrenpreneur yang memiliki sejumlah tujuan. Pertama, membangkitkan ekonomi kaum muda hingga ke pelosok desa sebagai basis pesantren.



"Sehingga pergerakan ekonomi kaum muda lebih merata, tidak hanya di kota-kota besar saja yang marak dengan bisnis rintisan atau startup. Dari pesantrenpreneur, bukan tidak mungkin muncul startup di desa yang bisa mengekspor produk unggulannya," katanya.



Kedua, memperkuat semangat kemandirian ekonomi umat. Semangat kewirausahaan ini harus menjadi wacana dominandalam perbincangan generasi muda di berbagai saluran, termasuk media sosial.



"Sehingga ke depan wacana keislaman mengarah ke penguatan ekonomi umat, tidak hanya berkutat pada perdebatan relasi agama dan negara yang banyak berujung pada maraknya provokasi isu SARA di media sosial akhir-akhir ini," kata dia, menjelaskan konsep impiannya itu.(*)

Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar