Nairobi, (Antara/Xinhua-OANA) - Para ilmuwan yang menghadiri Sidang Lingkungan Hidup PBB (UNEA) di Nairobi, Kenya, menyampaikan rasa terkejut mengenai cepatnya kerusakan terumbu karang, yang penting dalam menjamin kelangsungan hidup satwa laut.
Menghangatnya temperatur air laut dan pola cuaca El Nino diduga sebagai penyebab kerusakan itu.
Ruth Gates, Direktur di Institute of Marine Biology di University of Hawaii, mengatakan kebanyakan terumbu karang di seluruh dunia telah menghadapi sedikitnya 93 persen pemutihan akibat air laut yang bertambah hangat. Sebagian besar terumbu karang tersebut berada di Negara Asia --India, Maladewa, Sri Lanka dan Kepulauan Lakshadweep di India.
"Pemutihan terumbu karang berarti mereka tertekan dan warna mereka telah berubah jadi putih, yang merupakan reaksi dari peningkatan temperatur air laut berkaitan dengan pemanasan akibat perubahan iklim," kata Ruth Gates dalam taklimat di Nairobi, Kenya.
Kondisi yang berisi tekanan itu dihadapi oleh terumbu karang, yang penting bagi kelangsungan hidup spesies laut dan pendukung kehidupan di laut, didorong oleh berlanjutnya pengerukan pelabuhan untuk jaringan transportasi, dampak dari perubahan iklim dan buangan gas rumah kaca.
"El Nino memiliki dampak dan kita dapat menyaksikan dampak tersebut. Sebanyak 80 persen terumbu karang mati atau 70 persen terumbu karang memutih," kata Ruth Gates, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu siang.
Para ilmuwan tersebut mengatakan pemutihan terumbuh karang masih dapat diselamatkan oleh upaya yang dilancarkan untuk menurunkan temperatur global. Dalam peristiwa El Nino pada 1998, para ahli mengatakan dunia kehilangan 18 persen terumbu karang.
Di dalam laporan baru yang disiarkan di Nairobi pada Selasa, UNEP memperingatkan terumbu karang menghadapi masa depan suram tapi perahu penyelamat masih bisa menolong mereka bertahan hidup sementara temperatur meningkat sedangkan terumbu karang di daerah dangkal mengalami pemutihan dan kemungkinan mati atau kering.
"Sungguh mengkhawatirkan, sekalipun pengurangan buangan gas yang dijanjikan oleh banyak negara dalam Kesepakatan Paris dicapai, lebih seperempat terumbu karang di dunia mengalami pemutihan.
Kepala Unit Terumbu Karang di UNEP Jerker Tamelander mengatakan situasi yang dihadapi terumbu karang jauh lebih serius ketimbang perkiraan sebelumnya akibat dampak dari pemutihan.
"Ini adalah situasi yang sangat serius. Terumbu karang akan terus mengalami pemutihan. Namun, terumbu karang memiliki kemungkinan untuk bangkit," kata Tamelander.
Pemutihan terumbu karang membuat mereka tak berguna dalam menyelamatkan ekosistem-kehidupan laut sebab terumbu karang tersebut menjadi objek erosi di laut sementara kehilangan susunan kehidupan aslinya.
Para ilmuwan mengatakan jika kerusakan terumbu karang terus terjadi, kehidupan orang yang tinggal di sekitar wilayah pantai di lebih dari 100 negara dan menggantungkan hidup pada perairan laut untuk memperoleh makanan dan penghasilan akan menderita kerugian.
Terumbu karang juga memberi penghasilan dari wisawatan dan juga mempengaruhi industri lain.(*)
