Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Masa Baru di Desa Jatisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur memanfaatkan eceng gondok sebagai pembenah tanah alami untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian mereka.

Inovasi pertanian ramah lingkungan yang dikembangkan petani di Probolinggo itu didampingi UPT Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya melalui Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan bersama POPT Pangan dan Hortikultura, serta tim Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kuripan.

"Eceng gondok selama ini dikenal sebagai gulma yang merusak ekosistem perairan. Namun, di balik itu tanaman tersebut memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan nutrisi dari sisa pupuk yang terbawa air, sehingga sangat potensial dimanfaatkan kembali untuk memperbaiki kesuburan tanah," kata Petugas POPT Perkebunan, Ika Ratmawati dalam keterangannya di Probolinggo, Sabtu.

Menurutnya, eceng gondok memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, karena menyerap sisa pupuk di perairan, sehingga hal itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah untuk memulihkan kesuburan lahan pertanian.

Ia mengatakan pembuatan pembenah tanah itu tergolong mudah dan murah, karena menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat di sekitar petani, yakni 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram kulit nanas, 250 mililiter EM4, 250 mililiter molase, dan 10 liter air yang difermentasi selama satu bulan.

"Dengan formulasi tersebut, pembenah tanah sudah siap digunakan. Aplikasinya dengan cara dikocor atau disiram ke tanah dengan perbandingan 1:10 liter air, sehingga yang dibutuhkan hanya kemauan petani untuk memperbaiki kondisi tanahnya," katanya.

Menurutnya, pemanfaatan bahan alami itu tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pertanian secara berkelanjutan.

Petugas POPT Pangan dan Hortikultura, Panji Ramadhan mengatakan penggunaan pembenah tanah sebaiknya dilakukan saat pengolahan lahan atau sebelum masa tanam.

"Langkah itu menjadi bagian penting dalam mendorong sistem pertanian yang mandiri dan ramah lingkungan," ujarnya.

Sementara Ketua Kelompok Tani Masa Baru, Karsan mengatakan inovasi sederhana seperti itu sangat bermanfaat bagi petani dalam jangka panjang.

"Petani harus mandiri dalam membuat pupuk organik dan pembenah tanah. Kami akan terus belajar dan berupaya mengembalikan kesuburan lahan dengan cara yang lebih alami,” ungkapnya.

Melalui inovasi itu diharapkan para petani di Kabupaten Probolinggo semakin terdorong untuk beralih ke praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, sekaligus menjaga keberlanjutan produktivitas lahan di masa depan.



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Vicki Febrianto

COPYRIGHT © ANTARA 2026