Disporabud Pamekasan Kembangkan Desa Wisata

id Pariwisata Pamekasan, Disporabud Pamekasan, Desa Wisata Pamekasan

Pamekasan (Antara Jatim) - Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disporabud) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, berencana mengembangkan desa wisata sebagai upaya untuk menggali potensi wisata yang ada di wilayah itu.

"Ada dua desa yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi desa wisata di Kabupaten Pamekasan ini," kata Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata, Disporabut Pamekasan Halifaturrahman kepada Antara di Pamekasan per telepon, Minggu.

Kedua desa itu masing-masing Desa Montok, Kecamatan Larangan dan Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan.

Potensi wisata yang ada di Desa Montok adalah wisata pantai, religi dan wisata budaya. Wisata pantai terletak di Pantai Talang Siring, wisata religi di Dusun Pacanan, yakni terdapat makam Joko Tarup, sedangkan wisata budaya, kelompok seni budaya di desa itu sangat aktif.

Selain itu, masyarakat di desa ini juga memiliki kelompok pemuda yang memang peduli terhadap pelestarian pariwisata yang disebut Pokdarwis (kelompok sadar wisata), dan kelompok ini sudah aktif sejak beberapa tahun lalu.

"Jadi, pemerintah daerah nantinya tinggal mendorong mereka untuk lebih giat lagi, karena dari sisi kesiapan masyarakat di desa ini sebenarnya telah siap," kata "Mamang" sapaan karib Halifaturrahman ini.

Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Pamekasan ini lebih lanjut menjelaskan, selain karena memang sudah ada potensi wisata dengan dukungan masyarakat setempat, Desa Montok juga berdekatan dengan Vihara Avalokitesvara, yakni sebuah kelenteng unik, karena didalamnya ada tiga tempat ibadah, dan kelenteng ini juga pernah meraih penghargaan dari museum rekor dunia Indonesia (Muri).

Jarak antara pantai Talang Siring dengan kelenteng itu sekitar 1 kilometer dan dikelenteng ini juga sering dijadikan pementasan seni budaya oleh masyarakat setempat.

Kegiatan seni budaya di kelenteng yang dikelola oleh Ketua Yayasan Viraha Avalokitesvara Kosala Mahinda ini juga sering menggelar kegiatan wisata budaya, baik pada hari-hari besar keagamaan, maupun kegiatan insidentil lainnya. Bahkan di kelompok seni budaya di kelenteng ini dikenal sebagai kelompok seni yang mampu menampilkan wayang golek dengan dalang berbahasa Madura.

Sedangkan di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, karena di desa ini merupakan pusat kerajinan batik tulis khas Madura dan masyarakat di desa itu juga telah siap untuk dijadikan desa wisata.

"Pusat batik tulis, dalam artian perajin batik terbanyak di Pamekasan ini kan ada di Desa Klampar," kata Halifaturrahman.

Sebenarnya, kata pengurus Korp Alumi HMI (Kahmi) Pamekasan ini, desa-desa yang memiliki potensi wisata dan kedepan bisa dikembangkan sebagai desa wisata tidak hanya di dua desa.

Desa lain yang juga memiliki potensi alam untuk dikembangkan menjadi desa wisata adalah Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan dan Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu.

Potensi wisata di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan itu "Api Tak Kunjung Padam" atau "Api Abadi". Api itu tidak pernah padam meskipun musim hujan seperti sekarang ini dan selama ini sudah banyak wisatawan dan berkunjung ke lokasi wisata yang terletak sekitar 5 kilometer ke arah selatan Kota Pamekasan tersebut.

Hanya saja, kata "Mamang" masyarakat yang ada di desa itu belum sepenuhnya siap, seperti masyarakat di Desa Montok, Kecamatan Larangan dan Desa Klampar, Kecamatan Proppo.

Demikian juga di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, masih butuh pembinaan khusus dari Pemkab Pamekasan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan potensi wisata.

"Dalam jangka panjang kedua tempat ini bisa diprogramkan menjadi desa wisata. Tapi sementara ini yang sangat siap, ya di dua desa itu, yakni Desa Montok dan Desa Klampar," pungkasnya. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar