Bojonegoro (Antara) - Berwisata di lokasi agrowisata kebun belimbing di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, belum lengkap kalau belum mencicipi produk olahan yang berbahan baku belimbing, seperti sirup, kerupuk, selai dan air sari belimbing. Produk olahan belimbing di kebun petani di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, tersebut, semuanya merupakan olahan ibu-ibu yang tergabung di dalam Kelompok Usaha Bersama (KU) Tulip I di desa setempat. "Kami membuat produk olahan belimbing sejak tiga tahun lalu. Tetapi mulai diminati pengunjung sejak setahun terakhir," kata Ketua KUB Tulip I Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro Sumiyati (50), di kediamannya di desa setempat, Rabu (12/11). Di lokasi agrowisata setempat, katanya, harga sirup belimbing Rp20.000/botol, selai Rp10.000/botol, kerupuk Rp7.500/pak dan air sari belimbing Rp1.000/gelas. Selain bisa diperoleh di lokasi agrowisata, berbagai produk olahan belimbing tersebut juga bisa dibeli di sebuah toko di tepi jalan raya Bojonegoro-Padangan, yang lokasinya di jalan masuk ke Desa Ngringinrejo. "Awal pemasarannya pengunjung ke agrowisata kebun belimbing kami suruh mencoba secara gratis, seperti air sari belimbing. Tapi karena rasanya masih alami, mereka akhirnya bersedia membeli," ucapnya. Mengenai bahan, menurut dia, tidak ada masalah, sebab di kawasan setempat merupakan sentra kebun belimbing, bahkan Desa Mojo, juga di Kecamatan Kalitidu, yang lokasinya berselahan dengan desa setempat, warganya juga menanam belimbing. "Soal bahan ya tidak ada masalah, bahkan berlebih," ucap Sumiyati. Sesuai data, di Desa Ngringinrejo, terdapat tanaman belimbing seluas 20,4 hektare dengan jumlah 9.604 pohon dan di Desa Mojo seluas 17 hektare. "Rata-rata produksinya berkisar 40-50 kilogram/pohon sekali panen, dengan waktu panen tiga kali dalam setahun," jelas Ketua Kelompok Tani Mekar Sari di desa setempat Suwoto, menambahkan. Para ibu di KUB Tulip I, menurut Sumiyati, dalam mengolah produk olahan belimbing mengambil lokasi di sebuah ruangan di Balai Desa Ngringinrejo. Hanya saja, sebagaimana disampaikan Sumiyati, pembuatan produk olahan belimbing menjadi kuliner khas di lokasi obyek wisata belum bisa dilakukan secara maksimal, dalam jumlah besar. Lebih lanjut ia menjelaskan ibu-ibu dalam mengolah belimbing menjadi kuliner tidak berani dalam jumlah besar, karena tidak dilengkapi dengan obat pengawet. Ia mencontohkan, dalam membuat sirup dan sari belimbing karena tidak dilengkapi obat pengawet akan cepat rusak. "Tapi kalau dimasukkan di dalam kulkas bisa bertahan sebulan," jelasnya. Meski demikian, katanya, pembuatan produk olahan belimbing dalam jumlah besar akan dilakukan kalau ada pesanan pembeli. "Rasanya segar dan alami," kata artis Tantowi Yahya, yang pernah menikmati sirup belimbing di lokasi agro wisata kebun belimbing di desa setempat yang lokasinya sekitar 14 kilometer dari Kota Bojonegoro itu. Dimintai konfirmasi, Kepala Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Moch. Syafii, menjelaskan pihak desa mendukung pengembangan belimbing menjadi kuliner, dengan membangunkan lokasi untuk ibu-ibu mengolah belimbing di lokasi kawasan wisata kebun belimbing. "Lokasi pengolahan dalam waktu dekat ini sudah bisa dimanfaatkan. Di lokasi itu ibu-ibu bisa mengolah belimbing menjadi kuliner sekaligus memasarkan produk olahan belimbing untuk oleh-oleh pengunjung agrowisata," jelasnya. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026