Surabaya (Antara Jatim) - Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sejumlah komoditas hortikultura atau buah-buahan yang dibudidayakan masyarakat setempat, seperti jeruk, manggis, buah naga, dan juga durian. Bahkan, sejumlah komoditas hortikultura yang kualitasnya bagus tersebut telah berhasil menembus pasar ekspor, kendati jumlahnya belum begitu besar. Dari beberapa komoditas tersebut, terdapat satu komoditas yang kini banyak menjadi buruan masyarakat, yakni buah durian merah. Setiap musim durian, buah khas asal Banyuwangi ini selalu dicari-cari, tetapi tidak mudah mendapatkannya karena jumlahnya yang terbatas. Tingginya permintaan yang tidak diimbangi dengan suplai di pasar, membuat harga buah durian merah melambung tinggi hingga beberapa kali lipat dibanding buah durian biasa. "Bahkan, satu buah durian merah ukuran besar harganya bisa mencapai Rp250 ribu. Tapi, tetap saja ada orang yang membelinya karena memang penasaran dengan warna daging buah dan rasanya," kata Dinie, salah satu warga Banyuwangi, Kamis. Tidak hanya masyarakat Banyuwangi dan luar daerah, banyak wisatawan asing yang kebetulan sedang melancong ke daerah berjuluk "The Sunrise of Java" itu, ikut memburunya setelah mendengar cerita atau membaca informasi mengenai buah langka tersebut. "Pernah ada peneliti dari Malaysia yang datang khusus ke Banyuwangi hanya untuk mencari bibit tanaman buah durian merah tersebut, untuk dikembangkan dan dibudidayakan di negaranya," tambahnya. Menyadari besarnya potensi ekonomi dari buah durian merah tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tidak tinggal diam dan berupaya mengembangkan budidaya dengan menyebarkan bibit tanaman itu kepada warga setempat. Seperti di sela-sela acara tradisi "Tumpeng Sewu" di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas secara simbolis menyerahkan sebanyak 1.000 bibit tanaman buah durian merah sebagai salah satu upaya melestarikan komoditas hortikultura andalan dari daerah setempat. "Durian merah ini buah khas Banyuwangi dengan nilai ekonomis yang tinggi dibanding durian biasa. Potensinya sangat besar, sehingga dengan penanaman ini, kelak warga akan memetik hasilnya. Selain untuk penghijauan, ada nilai ekonomis yang diperoleh warga," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melalui surat elektronik kepada Antara di Surabaya, Kamis. Bibit tanaman durian merah yang nantinya ditanam di pekarangan rumah warga Kemiren (desa adat Osing), diperkirakan baru bisa dipanen buahnya pada usia 7-12 tahun ke depan, bergantung jenis bibitnya. Saat ini, lanjut bupati, jumlah pohon durian merah di Banyuwangi memang terbatas. Pohon yang produktif berbuah setiap tahun sekitar 200 pohon dengan produksi berkisar 1.500-1.700 buah setiap masa panen. "Jumlah itu sangat terbatas, padahal permintaan pasar saat ini sangat besar. Oleh karena itu, peluang untuk mengembangkan komoditas ini sangat luas. Apalagi, durian merah menjadi buah khas Banyuwangi, sehingga kami harus mengupayakan agar buah ini banyak tersedia dan mudah dibeli," tambah bupati. Banyak Varian Sementara itu, Ketua Divisi Riset dan Pengembangan Durian Merah dari Forum Pemerhati Hortikultura Banyuwangi Eko Mulyono menjelaskan budidaya pohon durian merah tersebar di sejumlah kecamatan di Banyuwangi, antara lain Kecamatan Kalipuro, Giri, Glagah, dan Songgon. Sekitar 3.000 bibit pohon durian merah sejak beberapa tahun lalu sudah mulai dibudidayakan masyarakat di kecamatan tersebut dan tinggal menunggu hasil panennya. "Tiga ribu pohon yang sudah dibudidayakan itu, diperkirakan akan mulai bisa dipanen 3-4 tahun ke depan. Kami berharap hasilnya bisa sesuai harapan," katanya. Eko Mulyono menuturkan jenis durian merah Banyuwangi berbeda dengan komoditas serupa yang ditemui di Kalimantan atau Malaysia. Durian merah Kalimantan berjenis "Durio Kutejensis", sementara di Malaysia jenisnya "Durio Graveolens". "Kalau durian merah Banyuwangi jenisnya 'Durio Zighetinus', memiliki kualitas yang paling baik dan rasa yang paling enak di antara jenis lainnya. Warna daging buahnya ada yang merah, oranye dan perpaduan warna-warni atau kerap disebut durian pelangi," ujarnya. Cita rasa yang berbeda itu membuat permintaan bibit durian merah Banyuwangi sangat tinggi. Tidak hanya dari daerah-daerah di Indonesia, bahkan juga dari Malaysia, Singapura dan Thailand ikut tertarik mengembangkan durian merah yang bibitnya dibeli dari Bayuwangi. "Untuk menjaga agar durian merah Banyuwangi tidak kehilangan identitasnya sebagai ikon daerah, kami selalu mencatatnya di hadapan notaris setiap mengirim bibit keluar," kata pria yang konsisten melakukan riset durian merah ini. Tidak hanya melakukan sosialisasi, eksplorasi dan riset durian merah juga terus dikembangkan. Hingga saat ini, ditemukan berbagai varian durian merah yang tumbuh di Banyuwangi dengan jumlah mencapai 62 varian, di antaranya jenis Musang Merah dan F1 Dubang yang ditanam di Desa Kemiren. Dari seluruh varian tersebut, durian merah Banyuwangi dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan warna daging buahnya,masing-masing durian merah blocking yang seluruh dagingnya berwarna merah, durian merah pelangi yang dagingnya berwarna merah dan kuning, serta durian grafika yang dagingnya berwarna kuning, putih dan merah. "Ketiganya bisa dibedakan dari pohonnya, di mana daunnya memiliki kekhasan masing-masing," jelas Eko Mulyono. Pihaknya terus gencar menyosialisasikan budidaya durian merah kepada masyarakat melalui program kewirausahaan berbasis konservasi. Tujuannya tidak hanya agar masyarakat tertarik menanam pohon durian, tetapi juga mengetahui cara terbaik perawatan dan pelestariannya. Apalagi, nilai ekonomis durian merah yang tinggi sangat potensial untuk memberi nilai tambah bagi masyarakat. "Harga durian merah di tingkat petani mulai dari Rp50.000 sampai Rp250.000 per buah. Sangat menjanjikan kalau terus dikembangkan," tambahnya. Selain tampilan dan cita rasanya yang menggoda, lanjut Eko, dari hasil penelitian ternyata buah durian merah juga memiliki khasiat cukup banyak, tidak seperti durian berdaging putih yang kandungannya didominasi zat gula dan karbohidrat. "Durian merah mengandung banyak zat bermanfaat seperti serotonin yang bisa mengobati insomnia, juga afrodisiak, tifohormon dan titosteron sebagai obat kuat. Selain itu juga mengandung antosianin yang bisa mencegah penuaan dini," imbuh Eko Mulyono. (*) Keterangan foto: Abdullah Azwar Anas menanam pohon durian merah di Desa Kemiren.
Berita Terkait
PLN bantu pembibitan dukung durian merah jadi ikon Banyuwangi
29 September 2025 20:49
Tiga varietas durian merah Banyuwangi resmi terdaftar di Kementerian Pertanian
14 November 2022 09:35
Susi Pudjiastuti Terkesan Nikmatnya Durian Pelangi Banyuwangi
3 November 2018 14:10
Rini Soemarno: Durian Banyuwangi Top
7 April 2018 13:22
Ke Kampung Durian Banyuwangi Yuk! (Video)
6 April 2018 05:24
Banyuwangi Miliki Kampung Durian
17 Maret 2018 17:06
Pengalaman Pertama Rizal Ramli Mencicipi Durian Merah
9 April 2016 20:18
Durian Merah Banyuwangi Kini Miliki 65 Varietas
8 April 2016 12:41
