Madiun (Antara Jatim) - Kepolisian Resor (Polres) Madiun Kota, Jawa Timur, merazia sejumlah jasa penukaran uang non-bank yang banyak bermunculan di Kota Madiun menjelang Hari Raya Idul Fitri 2014. Kapolres Madiun Kota, AKBP Anom Wibowo, Jumat mengatakan, razia dilakukan untuk menghindari adanya peredaran uang palsu (upal) dan tindak kejahatan lainnya yang mungkin timbul. "Razia tersebut kami lakukan untuk mengantisipasi adanya uang palsu. Selain itu juga mengantisipasi tindakan kriminal karena keberadaan mereka yang memajang uang dalam jumlah banyak sangat mengundang orang untuk berbuat jahat," ujar AKBP Anom kepada wartawan. Sisi lain, razia tersebut juga untuk mencegah jika ada pelaku jasa penukaran uang yang nakal dengan modus mengurangi jumlah uang pecahan yang ditukarkan konsumen. "Kemungkinan kriminalitas itu pasti ada. Karena menjelang lebaran biasanya mobilitas masyarakat dan kebutuhannya tinggi. Kadang-kadang setiap tahun terjadi peningkatan jumlah tindak kriminalitas. Entah itu jambret, pencurian, bahkan uang palsu," kata dia. Apalagi, lanjut Anom, di daerah Madiun dan sekitarnya banyak TKI yang pulang. Para TKI tersebut membawa uang lalu ditukarkan ke "money changer" dan juga tempat-tempat jasa penukaran uang non-bank seperti ini yang tidak berizin. Sehingga, hal itu berpotensi kerawanan. Pantauan di lapangan, saat melakukan razia, para polisi mendatangi dan memeriksa sejumlah uang pecahan yang disediakan. Mereka memeriksa uang-uang tersebut dengan cara manual, yakni dengan dilihat, ditrawang, dan diraba. Sementara itu, seorang jasa penukaran uang yang berada di depan Masjid Agung Kota Madiun, Erna, memastikan jika uang yang dibawanya adalah asli. Sebab, uang-uang tersebut berasal dari Bank Indonesia cabang Solo. "Saya jamin uangnya asli. Uang-uang itu saya dapatkan dengan menukarnya di Bank Indonesia cabang Solo. Jadi konsumen tidak perlu takut," ungkap Erna. Ia mengaku minat masyarakat Madiun untuk menukarkan uang pecahan jelang lebaran sangat tinggi. Masing-masing paket uang yang dijualnya berisi Rp100 ribu dengan pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, dan Rp20.000. Sedangkan, uang pecahan yang paling laku adalah Rp5.000. Setiap penukaran Rp100 ribu dibebankan biaya sebesar Rp10.000. Namun, sejak 'H-4', biaya penukaran uang naik menjadi Rp15.000 setiap paketnya. Rencananya, jasa penukaran uang yang sudah dilakukannya sejak awal Ramadhan lalu, akan berakhir pada 'H-1' Lebaran. (*)
Berita Terkait
Asa Bafagih dikenang lewat buku, Dirut ANTARA tekankan budaya literasi
5 April 2026 15:15
Mediator gagal upayakan gencatan senjata antara Iran-AS
4 April 2026 12:55
ANTARA: Media-humas harus beradaptasi hadapi tantangan era disrupsi
1 April 2026 16:50
ANTARA apologizes for wrong report on international flight suspension
18 Maret 2026 05:31
ANTARA minta maaf terkait kesalahan berita
18 Maret 2026 00:04
ANTARA sampaikan permohonan maaf terkait kesalahan berita
17 Maret 2026 23:51
PP Tunas dan lebaran sehat buat anak
13 Maret 2026 13:53
Wartawan ANTARA Biro Jatim juara pertama lomba karya jurnalistik ITS
11 Maret 2026 20:16
