Kediri (ANTARA) - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menekankan tentang pentingnya koperasi untuk masuk dalam ekosistem industri gula serta mengoptimalkan kemitraan antara petani serta koperasi. 

Menkop menjelaskan kemitraan antara petani, koperasi, dan industri sangat penting karena sektor gula merupakan salah satu komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.

“Pemerintah telah menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2028, untuk mencapainya, diperlukan penguatan sektor hulu hingga hilir secara terintegrasi,” katanya di Kediri, Jawa Timur, Sabtu.

Ferry menambahkan, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan gula nasional. Produksi gula nasional tahun 2025 mencapai sekitar 2,67 juta ton, sementara kebutuhan nasional mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun.

Dalam hal ini menunjukkan bahwa peluang peningkatan produksi tebu dan gula nasional masih sangat besar sekaligus menjadi ruang bagi penguatan peran petani, koperasi, dan industri.

Ia menilai tantangan utama petani tebu saat ini bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperoleh kepastian pasar, kepastian penyerapan hasil panen, dan kepastian usaha yang menguntungkan.

Dalam konteks tersebut, koperasi memiliki peran strategis sebagai offtaker yang menghimpun hasil panen petani, memperkuat posisi tawar anggota, dan menjamin kontinuitas pasokan bagi industri.

Ia juga memaparkan bahwa kemitraan yang dibangun oleh Koperasi Kana bersama Koperasi Petani Tebu dan PT Indogula Jayabaya merupakan contoh konkret bagaimana koperasi menjadi penghubung antara produksi rakyat dan kebutuhan industri nasional.

“Ke depan, koperasi tidak boleh hanya berfungsi sebagai pengumpul hasil panen, tetapi harus naik kelas menjadi pelaku usaha yang mampu menciptakan nilai tambah bagi anggotanya,” ujar dia.

Kementerian Koperasi juga mendorong koperasi-koperasi untuk kembali masuk ke sektor produktif. Jika Koperasi Kana bisa menghasilkan gula putih atau gula merah bisa dijual di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

“Kemudian, nanti bisa bangun pabrik kecap dengan menggunakan bahan gula merah, nanti kecapnya bisa dijual di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Artinya kita bisa membangun ekosistem petani tebu," katanya.

Ia juga menambahkan koperasi sekarang seperti yang diinginkan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, bahwa koperasi bisa menjadi badan usaha yang tidak kalah dengan badan usaha yang lainnya, tidak kalah dengan badan usaha swasta atau badan usaha milik negara.

Selain itu, Badan Layanan Umum (BLU) Kemenkop yaitu, LPDB juga akan membantu pembiayaan untuk pengembangan bisnis koperasi KANA.

Ketua Koperasi Konsumen Kana Jonathan Danang Wardhana menambahkan bahwa kerja sama dengan Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri menjadi momentum penting, karena ini langkah nyata untuk menyatukan petani dan koperasi.

Melalui kerja sama itu, pihaknya juga ingin menunjukkan bahwa koperasi akan menjadi pelaku utama dalam sektor produksi, pengolahan, dan distribusi.

“Dalam proses pengembangan tersebut, kami juga mendapat kepercayaan dari mitra internasional yang melihat potensi koperasi sektor riil di Indonesia. Kami bangun mitra dari Swiss dan menjadi tambahan semangat bagi kami untuk memperluas kapasitas bersama, memperluas manfaat pekerjaan, dan menghadirkan model bisnis koperasi yang semakin profesional dan berdaya saing,” ujar dia.

Ketua Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri Desi Permatasari menjelaskan bahwa kerja sama tersebut adalah langkah nyata untuk membangun sinergi yang saling menguntungkan antara petani dan pelaku ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan, mendukung pertumbuhan gula nasional. 



Pewarta: Asmaul Chusna
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026