Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Peneliti Universitas Jember (Unej) membuktikan bahwa tanaman liar endemik di Pulau Kalimantan dapat menurunkan gula darah lebih efektif dari obat standar dari hasil riset yang telah dilakukan beberapa waktu lalu.
Tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Jember berhasil membuktikan secara ilmiah potensi antidiabetes Ampelocissus rubiginosa lauterb, tanaman liar endemik Kalimantan yang dikenal masyarakat Dayak dengan nama lokal "tawas ut" atau “panamar peri” dapat secara efektif menurunkan gula darah.
“Diabetes itu penyakit kronis, pengobatannya membutuhkan jangka panjang. Dan trennya kini sudah menjangkiti usia produktif, bahkan usia 30 tahun. Sementara kita punya 6.000 spesies tanaman obat yang belum sepenuhnya dieksplorasi," kata Dekan Fakultas Farmasi Prof. Ari Satia Nugraha di Kabupaten Jember, Rabu.
Indonesia kini menghadapi masalah diabetes yang semakin berat. Sebanyak 19,5 juta penduduk tercatat menderita diabetes, menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia, dengan pengeluaran negara mencapai Rp95 triliun hanya untuk biaya pengobatan.
Di sisi lain, sekitar 90 persen bahan baku obat-obatan di Indonesia masih bergantung pada impor. Kondisi ini membuat harga obat kerap menjadi hambatan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan pengobatan jangka panjang, seperti penderita diabetes.
"Kondisi itulah yang mendorong saya dan tim untuk menggali potensi kekayaan hayati Nusantara. Ampelocissus rubiginosa lauterb, tanaman merambat yang tumbuh liar di hutan Kalimantan dan sejak lama digunakan masyarakat Dayak untuk menyembuhkan luka dalam maupun luar, namun kandungan antidiabetesnya belum pernah diteliti," katanya.
Tawas Ut memiliki tampilan yang tidak biasa. Bentuk akarnya menyerupai ketela, tetapi ketika kering, teksturnya sekeras kayu jati sehingga harus segera diproses saat masih basah. Sampel pertama diperoleh dari Kalimantan pada 2015, dan selama hampir satu dekade tim melakukan serangkaian tahapan mulai dari isolasi senyawa aktif, uji laboratorium (in vitro), hingga uji pada hewan percobaan (in vivo).
"Saya sudah meneliti tanaman obat hampir 20 tahun, Ekstrak tanaman itu termasuk unik, serta memiliki kandungan polifenol yang sangat tinggi. Riset tersebut menemukan bahwa ekstrak etanol akar tanaman itu mampu menghambat enzim pemecah gula dalam darah dengan efektivitas 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Acarbose, obat antidiabetes standar yang umum digunakan," katanya.
Secara sederhana, tanaman itu bekerja dengan cara menghambat enzim pemecah karbohidrat menjadi gula di dalam usus. Tanaman itu memiliki komponen fenolik dan antioksidan yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah, sehingga menghambat pemecahan karbohidrat menjadi gula, sehingga jumlah gula yang masuk ke aliran darah pun berkurang.
Pada uji laboratorium, ekstrak akar Tawas Ut terbukti jauh lebih efisien dalam menghambat enzim pemecah karbohidrat dibandingkan Acarbose. Untuk menghasilkan efek yang sama, Tawas Ut hanya membutuhkan dosis hampir 5 kali lebih kecil. Semakin kecil dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek tertentu, semakin kuat aktivitas suatu zat aktif.
Meski demikian, seluruh hasil penelitian itu masih berasal dari uji laboratorium dan uji pada hewan percobaan. Sebelum Tawas Ut dapat digunakan secara luas pada manusia, masih diperlukan serangkaian uji klinis lebih lanjut.
Para peneliti juga berhasil mengidentifikasi tiga zat aktif utama yang terkandung dalam akar Tawas Ut. Ketiganya termasuk dalam keluarga, flavonoid, yaitu senyawa alami yang juga ditemukan dalam teh hijau, anggur merah, dan berbagai buah beri, serta dikenal luas memiliki aktivitas antioksidan yang baik bagi tubuh. Menariknya, ketiga senyawa ini baru pertama kali ditemukan pada spesies tanaman tersebut.
Penelitian tanaman endemik Kalimantan itu melibatkan kolaborasi dengan BRIN, James Cook University Australia, dan University of Wollongong Australia ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Biologically Active Products from Nature pada Desember 2025.
"Kami sudah menyaring puluhan tanaman dari Indonesia, dan tidak ada yang seefektif itu. Uji in vitro-nya bagus, lebih baik daripada senyawa standar. Lalu kami mengonfirmasi dengan menggunakan model hewan uji, dan hasilnya juga sangat jelas. Ini mendukung apa yang telah diketahui masyarakat Dayak selama berabad-abad bahwa tanaman itu memang berkhasiat," ujarnya.
Penelitian itu sejalan dengan program pemerintah dalam mengembangkan obat berbasis herbal sekaligus memperkuat kemandirian farmasi nasional. Dengan memvalidasi secara ilmiah kearifan lokal masyarakat Dayak, penelitian ini berkontribusi dalam mentransformasi pengetahuan tradisional menjadi produk kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
"Riset kolaboratif itu membuktikan bahwa kekayaan hayati Nusantara, apabila diteliti dengan serius, dapat menjadi pondasi kemandirian kefarmasian Indonesia. Hal itu terbuka dari hutan-hutan yang selama ini dijaga oleh leluhur," katanya.
Pewarta: Zumrotun SolichahUploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026