Nilai-nilai lama yang selama ini dipelihara dengan kuat oleh masyarakat, termasuk di Madura, mungkin karena (kala itu) dianggap sebagai nilai luhur

Surabaya (ANTARA) - Isu mengenai kesetaraan gender masih perlu terus digaungkan di tengah masyarakat kita, lebih-lebih bagi masyarakat yang masih kuat memegang teguh budaya patriarki.

Budaya patriarki merupakan sistem sosial yang memosisikan kaum lelaki, dalam berbagai aspek kehidupan, sebagai pemegang kuasa atau berperan dominan, bahkan memiliki otoritas moral, khususnya dalam keluarga. 

Sistem patriarki ini menciptakan kondisi sosial yang menempatkan perempuan sebagai kaum lemah, bahkan tidak jarang menjadi korban dalam berbagai aspek kehidupan. 

Artikel ini hendak membahas isu mengenai kasus kekerasan yang dialami anak dan perempuan di Madura, sesuai dengan berita berjudul "Penanganan kekerasan perempuan di Madura butuh komitmen semua pihak".

Berita yang ditulis oleh pewarta Abd Aziz ini dimuat di laman https://www.antaranews.com/berita/5189505/penanganan-kekerasan-perempuan-di-madura-butuh-komitmen-semua-pihak pada 21 Oktober 2025, pukul 20:12 WIB. Berita ini ditulis dengan mengutip pernyataan narasumber anggota DPR RI asal Daerah Pemilihan (Dapil) XI Madura Ansari.

Berita ini, lewat pernyataan Ansari, mengungkap maraknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada perempuan dan anak di Madura, akhir-akhir ini.

Wakil rakyat asal Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, ini mencatat, sepanjang 2024 kasus kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak di Pulau Madura tercatat sebanyak 95 kasus. Perinciannya, di Kabupaten Bangkalan sebanyak 25 kasus, Sampang 21 kasus, Pamekasan 33 kasus, dan di Kabupaten Sumenep sebanyak 16 kasus.

Sementara pada 2025, mulai Januari hingga Agustus, sudah tercatat sebanyak 30 kasus. Masing-masing, Sampang 12 kasus, Pamekasan 12 kasus, dan di Kabupaten Sumenep sebanyak enam kasus.

Menurut Ansari, kasus ini tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan atau penegakan hukum semata, akan tetapi juga dibutuhkan pendekatan edukatif, budaya dan sosiologis.

Bagi Ansari, jumlah kasus kekerasan pada perempuan dan anak yang terjadi di Madura ini, bukan jumlah yang sedikit, tapi sangat banyak, karena sebagaimana kita ketahui, Madura dikenal dengan warga yang sangat agamis.

Karena itu, kata dia, butuh upaya sistemik, dan terstruktur untuk menekan kasus itu, melalui kebijakan politik yang berpihak, berupa upaya mewujudkan kesadaran kolektif di kalangan masyarakat.

Artikel ini hendak membedah berita pernyataan Ansari menggunakan model Ruth Wodak, yakni seorang akademikus dan ahli bahasa dari Austria. Ia berperan dalam kajian analisis wacana kritis (AWK) melalui pendekatan wacana-sejarah.

Jika menggunakan analisis wacana kritis model Ruth Wodak, pesan yang ingin disampaikan dalam berita ini tidak lagi menunjukkan upaya kelompok dominan yang berupaya menekan kelompok terpinggirkan. Meskipun demikian, fakta yang diungkap dalam berita ini adalah fakta mengenai dominannya kelompok tertentu (laki-laki) terhadap perempuan. 

Sebaliknya, kelompok terpinggirkan, yang diwakili oleh perempuan asli Madura yang juga merupakan anggota DPR RI, menyuarakan kampanye atau ajakan kepada semua pemangku kepentingan agar sistem sosial di masyarakat kita, dalam hal ini, konteksnya di Madura, tidak lagi memelihara budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kuasa atas perempuan.

Berita ini bukan berarti membantah model AWK Ruth Wodak, yang mana bahasa tidak netral, melainkan mengusung kepentingan atau ideologi kelompok tertentu untuk melanggengkan kekuasaan. 

Fakta mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat kita baca sebagai dampak dari fenomena bahasa yang tidak netral dan sarat kepentingan, yang disuarakan, mungkin puluhan atau ratusan tahun sebelumnya, di masyarakat Madura, yang mengusung nilai patriarki, dimana perempuan harus selalu mengalah pada laki-laki. Nilai relasi kuasa ini menjadi langgeng karena mendapat dukungan dari pemegang otoritas budaya, seperti kalangan sesepuh.

Dunia terus berubah. Nilai-nilai lama yang selama ini dipelihara dengan kuat oleh masyarakat, termasuk di Madura, mungkin karena (kala itu) dianggap sebagai nilai luhur, telah banyak dikritisi. Demikian juga dengan budaya patriarki. Telah banyak dampak negatif yang dirasakan oleh kelompok terpinggirkan, akibat dari budaya dalam balutan relasi kuasa tersebut.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan tingkat pendidikan masyarakat, ideologi kesetaraan, kini mulai diterima, bukan hanya di Madura, tapi di hampir semua kelompok budaya di Indonesia, seperti di Jawa, atau wilayah lain. 

Ideologi kesetaraan ini ternyata tidak berjalan sendirian. Bahkan, kelompok tertentu, yang dulunya ikut menjadi bagian dari pejuang budaya yang tidak disadari, seperti "belah bambu" ini, kini mulai tergugah untuk ikut menyuarakan pentingnya mengangkat harkat dan martabat perempuan. Budaya "belah bambu" ini sebetulnya lebih populer di dunia politik. Dalam konteks kesetaraan gender ini, budaya "belah bambu" dapat diartikan dengan mengangkat tinggi harkat laki-laki, sedangkan saat bersamaan, kaum perempuan justru "diinjak".

Ansari yang (kini) merupakan bagian dari kelompok perempuan berdaya ini, juga berasal dari lingkungan yang kuat memegang teguh nilai-nilai agama. Ia merupakan alumni pondok pesantren di Madura. Sebagai perempuan yang mewakili kelompok agama, Ansari tidak lagi merasa tabu untuk mengoreksi budaya dan perilaku dominasi kaum lelaki yang menyebabkan kaum perempuan menjadi korban.

Ansari justru mengambil bagian dalam kampanye untuk mengembalikan martabat perempuan sebagai manusia, yang di hadapan Tuhan, statusnya sama dan setara.

Menyikapi kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Madura ini, kampanye terus menerus atau berkelanjutan harus menjadi komitmen semua pihak, seperti organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, kelompok agama, dan pemerintah. Semua harus memiliki pandangan dan sikap yang sama untuk menyelamatkan kaum perempuan. Menyelamatkan perempuan, hakikatnya sama dengan menyelamatkan kemanusiaan.

---------

*) Siti Rohmatul Ummah dan Masuki adalah mahasiswa S2 Program MPd Univeritas Dr Soetomo (Unitomo), Dr Nensy Megawati Simanjuntak, MPd adalah dosen Pascasarjana Unitomo Surabaya
 

 



Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026