Lamongan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lamongan menyiapkan strategi antisipasi musim kemarau 2026 guna menjaga produksi pertanian dan memperkuat penanganan dampak bencana hidrometeorologi.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan langkah antisipatif tersebut menjadi prioritas daerah menghadapi potensi fenomena El Nino yang diperkirakan menurunkan curah hujan hingga 20–40 persen dengan puncak kekeringan pada Agustus–September 2026.

“Upaya ini tidak hanya untuk mitigasi bencana, tetapi juga memastikan produksi pertanian tetap optimal agar swasembada pangan terjaga,” katanya usai mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Kemarau 2026 di Surabaya, Jawa Timur, Selasa.

Ia menjelaskan pemerintah setempat telah menyiapkan sejumlah strategi, antara lain pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan sistem peringatan dini, serta optimalisasi sumber daya air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, dan sumur.

Selain itu, pemerintah daerah mendorong pemanfaatan pompanisasi dan irigasi perpompaan, percepatan masa tanam untuk memanfaatkan sisa air hujan, serta penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan.

Pemkab juga memperkuat dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) guna meningkatkan efisiensi produksi, disertai koordinasi lintas sektor dalam pengaturan distribusi air irigasi dan penyediaan sarana produksi pertanian.

Di sisi penanganan bencana, lanjutnya, kesiapan operasi modifikasi cuaca, dukungan sarana operasi udara untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta sistem pompanisasi untuk mengairi lahan terdampak kekeringan turut disiapkan.

Yuhronur menegaskan strategi tersebut akan diterapkan di Lamongan sebagai upaya menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim.



Pewarta: Alimun Khakim
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026