Surabaya - Transaksi pasar lelang komoditas di Jawa Timur pada 2013 ditargetkan meningkat menjadi Rp200 miliar dari tahun lalu sebesar Rp184.54 miliar dengan cara memperluas pasar dan menambah sembilan kantor perwakilan dagang (KPD) di luar Jawa. Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Jatim, Arifin T Hariadi, di Surabaya, Kamis, mengatakan secara akumulatif nilai transaksi pasar lelang komoditas yang selalu dilaksanakan di Pasar Induk Agribisnis Puspa Agro Sidoarjo mencapai Rp2,989 triliun antara tahun 2003 hingga 2012. "Besaran itu meningkat dibandingkan nilai transaksi akumulasi pasar lelang komoditas antara tahun 2003 hingga 2011 yakni Rp2,805 triliun," ujarnya. Sementara, dia mencontohkan, penambahan Kantor Perwakilan Dagang (KPD) pada tahun ini akan direalisasi sebanyak dua kantor di Papua Barat dan beberapa di Sumatera Utara serta Lampung. "Bahkan, kami juga membuka KPD di daerah lain selama tahun 2013," katanya. Ia optimistis dengan kian meluasnya KPD Disperindag Jatim di provinsi lain maka pendapatan dari sektor perdagangan dalam negeri pada tahun 2013 bisa tumbuh 10 persen dibandingkan pencapaian tahun 2012. "Untuk mewujudkannya kami siap menggandeng pelaku usaha agar terjalin kontak bisnis yang lebih baik. Sampai sekarang, kerja sama perdagangan yang sudah terealisasi dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur," katanya. Di sisi lain, dia mengatakan, saat ini kondisi perdagangan di Jatim terhambat oleh cuaca buruk sehingga beberapa komoditas mengalami kenaikan harga. Seperti harga bawang putih meningkat antara 10-31,16 persen. "Pergerakan harganya tampak dari Desember 2012 rata-rata senilai Rp12.975 perkilogram, Januari 2013 Rp21.139 perkilogram, dan Februari ini meningkat menjadi Rp27.726 perkilogram," katanya. Bahkan, menurut dia, rata-rata harga kacang tanah juga meningkat 29,34 persen pada bulan Februari 2013 menjadi Rp21.884 perkilogram dibandingkan Januari lalu Rp16.919 perkilogram. "Komoditas hortikultura memang rentan dengan cuaca buruk sehingga mempengaruhi kenaikan biaya distribusi antara 10-15 persen," katanya. Ia berharap situasi perdagangan di Jatim dengan kenaikan harga sejumlah komoditas tidak berlangsung lama karena hal tersebut dapat bermuara pada terjadinya inflasi. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026