Ngawi (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun melakukan perbaikan geometri lintasan di perlintasan sebidang yang memiliki mobilitas kendaraan tinggi, salah satunya di Ngawi, Jawa Timur guna meningkatkan keamanan jalur.
Manajer Humas KAI Daop 7 Madiun Tohari dalam keterangannya, Jumat mengatakan bahwa upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan untuk memastikan operasional kereta api tetap aman, nyaman, dan tepat waktu.
"Perlintasan sebidang adalah titik pertemuan krusial antara jalur KA dan jalan raya. Perawatan geometri secara rutin oleh tim Jalan Rel dan Jembatan sangat penting untuk menjaga stabilitas lintasan serta meminimalkan risiko gangguan perjalanan," ujar Tohari.
Salah satu titik utama yang menjadi fokus pengerjaan adalah JPL No. 15, yang berlokasi di Jalan Raya Maospati-Ngawi, Desa Keras, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi. Perbaikan di titik itu sangat vital mengingat cukup padatnya arus lalu lintas kendaraan yang melintasi perlintasan tersebut.
Tohari menjelaskan program peningkatan kualitas jalur tersebut tidak hanya dilakukan di Ngawi. Sepanjang periode 2025, KAI Daop 7 Madiun telah melakukan perbaikan geometri di 98 titik perlintasan yang tersebar di wilayah kerja Daop 7 Madiun.
Meliputi Kabupaten Jombang, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, Kediri, Tulungagung, dan Blitar. Sedangkan wilayah kota meliputi, Kota Madiun, Kediri, dan Blitar. Adapun program perbaikan geometri di Tahun 2026 akan dilaksanakan di 92 titik JPL.
KAI menyadari bahwa proses teknis ini dapat berdampak pada kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi pengerjaan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan berhati-hati saat melintasi area perbaikan, mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang terpasang, dan mengikuti arahan petugas di lapangan demi kelancaran bersama.
"Keselamatan perjalanan KA dan pengguna jalan adalah prioritas utama kami. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul selama proses pengerjaan perbaikan dan berterima kasih atas pengertian masyarakat," kata Tohari.
Pewarta: Louis Rika StevaniEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026