Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp16.811 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.786 per dolar AS.
Namun Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan kurs rupiah berpotensi menguat terbatas seiring data ekonomi AS yang lemah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melanjutkan menguat masih terbatas di kisaran Rp16.750-Rp16.800 dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang lemah yang memberikan signal bagi The Fed untuk pelonggaran moneter,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Tercatat, AS mengumumkan data penjualan ritel pada Desember 2025 bergerak datar di 0,0 persen month to month (mom), melambat dari November 2025 dan kurang dari ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen mom.
Selain itu, data ketenagakerjaan non-farm payrolls (NFP) AS sebesar 130 ribu pada Januari 2026, lebih tinggi dari proyeksi 70 ribu bertumbuh 181 ribu pada Desember 2025.
Namun, total pertumbuhan pekerjaan non pertanian untuk 2025 direvisi menurun jadi 181 ribu dari 584 ribu.
Pelaku pasar disebut juga tengah menunggu rilis data inflasi AS yang diperkirakan sesuai prediksi dan tak banyak berubah dibandingkan periode sebelumnya, yakni 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen year on year.
Melihat sentimen domestik, lanjut dia, pelaku pasar menyoroti fundamental ekonomi Indonesia dan ruang fiskal pemerintah.
“Perekonomian Indonesia banyak ditopang oleh belanja masyarakat, namun tren kenaikan inflasi ke depan akan terus berlanjut dan dapat menggerus daya beli masyarakat,” ungkap Lukman.
