Beijing (ANTARA) - Menteri Luar Negeri China Wang Yi mempromosikan “Tahun Tiongkok” sebagai tema besar Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2026, dengan penekanan pada penguatan integrasi ekonomi kawasan, transformasi digital dan hijau, serta perluasan kerja sama lintas sektor.
“Menlu Wang Yi membagikan rancangan hasil utama dari ‘Tahun Tiongkok’ APEC. Ia mendorong para pihak untuk fokus pada tujuan utama membangun komunitas Asia-Pasifik, dan memajukan proses pembangunan Kawasan Perdagangan Bebas Asia-Pasifik (FTAAP),” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (11/2).
Selain itu Lin Jian juga menyatakan Menlu Wang Yi mendorong para pihak agar meningkatkan jaringan konektivitas, mempromosikan transformasi digital, cerdas, dan hijau, serta memperdalam kerja sama praktis di bidang anti-korupsi, fiskal, transportasi, dan bidang-bidang lainnya.
China akan menjadi tuan rumah APEC 2026 dengan tema “Membangun Komunitas Asia-Pasifik untuk Kemakmuran Bersama”. Salah satu agenda awal adalah Pertemuan Pejabat Senior atau Senior Officials’ Meeting pada 1–10 Februari 2026 di Guangzhou, Provinsi Guangdong, yang dihadiri Wang Yi.
“Sebagai acara resmi pertama yang diselenggarakan China sebagai tuan rumah APEC, pertemuan-pertemuan tersebut sepenuhnya memulai kerja sama di berbagai bidang dan menghasilkan hasil yang akan dibahas pada Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC pada November 2026 nanti,” tambah Lin Jian.
Dalam forum tersebut, Wang Yi menganjurkan pembangunan Asia-Pasifik yang makmur dan stabil, terbuka dan saling terhubung, saling menguntungkan dan inklusif, serta bersatu dan saling mendukung, guna membuka babak baru kerja sama regional.
Ia menggarisbawahi pentingnya Kawasan Perdagangan Bebas Asia-Pasifik atau Free Trade Area of the Asia-Pacific/FTAAP, dan jaringan konektivitas sebagai landasan integrasi ekonomi kawasan.
“Semua pihak harus membangun konsensus tentang kerja sama dalam perdagangan, investasi, regulasi, dan rantai industri dan pasokan, serta mengeksplorasi cara untuk lebih menyinergikan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional dan Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik untuk memperluas jalan menuju FTAAP,” tambah Wang Yi.
Menurut Wang Yi, Cetak Biru Konektivitas APEC periode 2015–2025 yang diusulkan pada pertemuan Beijing 2014 telah memberikan kemajuan penting.
“Semua pihak harus membangun di atas itu, mengidentifikasi lebih banyak kepentingan yang saling terkait, berupaya menuju cetak biru yang lebih baik, dan membuat konektivitas fisik, kelembagaan, dan antarmasyarakat lebih solid dan efektif,” ungkap Wang Yi.
Ia juga menyarankan percepatan tiga transformasi utama di bidang digital, ilmu pengetahuan, dan lingkungan yang didorong inovasi sebagai pendorong pertumbuhan baru bagi perekonomian APEC sekaligus jalan menuju pembangunan berkelanjutan.
“Semua pihak harus secara aktif membangun kemitraan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi serta mendorong ekosistem inovasi yang terbuka. Semua pihak harus sepenuhnya memanfaatkan kekuatan mereka dalam teknologi digital untuk memajukan kerja sama praktis dalam perdagangan elektronik lintas batas, aliran data, bea cukai cerdas, dan lain-lain,” jelas Wang Yi.
Wang Yi juga mengajak seluruh anggota mendorong pengembangan kecerdasan artifisial yang berpusat pada manusia dan untuk kebaikan bersama, serta membangun konsensus mengenai peran AI dalam mendukung pertumbuhan dan aturan tata kelolanya.
“Semua pihak harus mempercepat pembangunan hijau dan rendah karbon, dan mengajukan lebih banyak inisiatif kerja sama di bidang energi bersih, mineral hijau, perlindungan lingkungan, dan bidang terkait,” tambah Wang Yi.
Di sisi tata kelola, ia menekankan pentingnya menghormati keragaman anggota APEC dan memperdalam kerja sama praktis di berbagai bidang yang integral dengan pembangunan.
“Dalam memerangi korupsi, semua pihak harus membangun hasil dan konsensus dari pertemuan Beijing dan memperkuat kerja sama lintas batas. Sebagai tanggapan terhadap tantangan pembangunan bersama yang dihadapi seluruh kawasan Asia-Pasifik, semua pihak harus memperdalam kerja sama praktis di bidang fiskal, transportasi, pariwisata, kesehatan masyarakat, penuaan penduduk, ketahanan pangan, dan bidang lainnya,” jelas Wang Yi.
Ia juga menyatakan bahwa semua pihak harus memperkuat interaksi antar usaha kecil dan menengah serta di bidang sumber daya manusia, perempuan, pemuda, dan media, memfasilitasi perjalanan timbal balik, dan menjalin hubungan antar masyarakat yang lebih erat.
Seiring dengan itu, situs web resmi “Tahun China” APEC telah diluncurkan melalui www.apec2026.cn yang memuat berbagai informasi terkait agenda dan kegiatan.
APEC merupakan forum kerja sama yang beranggotakan 21 entitas ekonomi di lingkar Samudera Pasifik dan berdiri pada 1989. Anggotanya terdiri atas Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, China, Hong Kong-China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Peru, Papua Nugini, Russia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.
Kerja sama APEC bersifat non-politis dan ditandai dengan keanggotaan Hong Kong serta Taiwan. Setiap anggota disebut sebagai “ekonomi” karena berinteraksi sebagai entitas ekonomi, bukan sebagai negara.
Tujuan jangka panjang APEC tertuang dalam Putrajaya Vision 2040 yang disepakati pada 2020. Dokumen tersebut menggantikan Bogor Goals yang menjadi visi jangka panjang APEC sejak 1994.
