Seribu hari pertama kehidupan menjadi kunci utama pencegahan dan penanganan stunting

Surabaya (ANTARA) - Praktisi kesehatan dr Nurul Ima Suciwiyati Sp.A memaparkan pencegahan dan penanganan stunting tidak hanya fokus pada gizi, melainkan juga mencakup aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. 

"Deteksi dini sejak seribu hari pertama kehidupan menjadi kunci utama pencegahan dan penanganan stunting," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima di Surabaya, Jumat.

Nurul menjadi salah satu Tim Dokter Spesialis Anak (DSA) dalam Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS) di Kabupaten Jember, Jawa Timur. 

Program yang dilaksanakan selama tiga bulan pada penghujung 2025 lalu ini berhasil menurunkan angka stunting sebesar 16,05 persen dari total 81 balita peserta di 18 Puskesmas wilayah Kabupaten Jember. 

Melalui program ini, sebanyak 74,07 persen balita di Jember juga mengalami peningkatan status gizi secara signifikan.

Sementara 9,9 persen balita lainnya masih memerlukan pendampingan lanjutan untuk mencapai kondisi gizi yang optimal.

Nurul mengungkapkan, karena penanganan stunting merupakan permasalahan yang juga dipengaruhi oleh faktor kesehatan dan sosial-ekonomi, maka program PEGAS tidak hanya fokus pada peningkatan gizi.   

"Penanganan dalam Program PEGAS turut mencakup penguatan pola makan keluarga, dukungan pola asuh, penerapan gaya hidup sehat, hingga edukasi terkait pencegahan pernikahan dini," ujarnya.

Nurul menambahkan, pendampingan klinis yang dilakukan melalui metode telemedicine oleh tim DSA lintas rumah sakit daerah di Kabupaten Jember juga mendukung suksesnya program PEGAS. 

"Khususnya dalam pendampingan kasus severe stunting dan gizi kurang. Hasilnya, sebanyak 90,12 persen anak peserta menunjukkan perbaikan status gizi selama periode program berlangsung," ucapnya.
 



Pewarta: Hanif Nashrullah
Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026