Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia optimistis RI mampu mencapai target investasi pada 2026, yang ditetapkan sebesar Rp2.175,3 triliun.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dalam "Global & Domestic Economic Outlook 2026" di Jakarta, Kamis, menuturkan Indonesia memiliki modal yang cukup untuk mengakselerasi pertumbuhan investasi tahun ini.
Dari segi instrumen ekonomi, Anin, panggilannya, berpendapat dua faktor penting yang menjadi pertimbangan investasi adalah pertumbuhan dan stabilitas.
"Kalau pertumbuhan, kita lihat tiga besarnya adalah Indonesia, selain India dan Vietnam. Tapi, dari sisi skala, tentu kita di atas Vietnam," ujarnya.
Bersamaan dengan itu, Indonesia dinilai mampu mempertahankan stabilitas nasional.
Bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang mengalami gejolak yang cukup dinamis, Ketum Kadin meyakini Indonesia mempunyai nilai jual untuk menarik investasi.
"Orang boleh bicara mengenai perekonomian yang lebih besar. Tapi, kalau tidak stabil, orang takut memberikan dananya. Nah, kita lihat Indonesia ini sangat besar potensinya," tambah dia.
Modal penting lain yang juga dimiliki Indonesia, kata Anin, adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Kehadiran Danantara dianggap berperan dalam menjaga arus investasi, yang diyakini dapat terus mengakselerasi kinerja investasi.
"Tapi, memang kita tidak boleh lengah. Karena dunia ini lagi mencari bentuk baru dengan adanya perang dagang, perang fisik. Karena itu, kita semua mengerti kenapa kita juga mesti kuat di atas kaki sendiri," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan investasi nasional sepanjang 2025 melampaui target dengan realisasi mencapai Rp1.931,2 triliun atau 101,3 persen yang menyerap tenaga kerja 2,71 juta orang.
Rosan menyatakan capaian tersebut tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) yang mencerminkan terjaganya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia, serta indikasi kuat bahwa iklim investasi nasional tetap kondusif di tengah dinamika global.
