Surabaya (ANTARA) -
Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur Debora Sulistya Rini menyatakan nilai impor Jawa Timur periode Januari-Oktober 2025 tercatat 24,25 miliar dolar AS atau turun 3,56 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 25,14 miliar dolar AS.
“Penurunan nilai impor ini dipicu oleh melemahnya kinerja impor sektor migas yang turun,” katanya dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, Senin.
Debora mengatakan penurunan nilai impor dipicu melemahnya kinerja impor sektor migas yang turun sebesar 33,48 persen dari 5,88 miliar dolar AS menjadi 3,91 miliar dolar AS.
Impor komoditas minyak mentah turun sebesar 49,52 persen dari 1,12 miliar dolar AS menjadi 563,76 juta dolar AS dengan impor komoditas hasil minyak juga mengalami penurunan sebesar 36,93 persen dari 3,77 miliar dolar AS menjadi 2,38 miliar dolar AS.
Di sisi lain, impor nonmigas mengalami peningkatan sebesar 5,57 persen dari 19,26 miliar dolar AS menjadi 20,33 miliar dolar AS.
Dari sepuluh komoditas dengan nilai impor nonmigas terbesar Januari-Oktober 2025, komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah perhiasan/permata meningkat 898,98 juta dolar AS atau naik 128,88 persen dibandingkan periode yang sama 2024.
"Impor perhiasan/permata paling besar berasal dari Hong Kong mencapai 807,60 juta dolar AS dan Uni Emirat Arab mencapai 297,23 juta dolar AS," ujar Debora.
Komoditas lainnya yang juga mengalami peningkatan terbesar selanjutnya adalah pupuk (HS 31) yang naik sebesar 249,00 juta dolar AS atau 33,97 persen serta komoditas mesin dan perlengkapan listrik (HS 85) yang naik 182,65 juta dolar AS atau 26,69 persen dibandingkan periode Januari-Oktober 2024.
"Komoditas pupuk paling banyak diimpor dari negara Fed Russia mencapai 296,74 juta dolar AS dan Kanada mencapai 261,96 juta dolar AS," katanya.
Selanjutnya, komoditas mesin dan perlengkapan listrik (HS 85) paling banyak diimpor dari negara Tiongkok mencapai 603,82 juta dolar AS dan Amerika Serikat mencapai 38,93 juta dolar AS.
Sementara yang mengalami penurunan terbesar adalah serealia turun mencapai 670,98 juta dolar AS atau turun 40,68 persen dibandingkan periode yang sama 2024.
Selama Januari-Oktober 2025, impor dari sepuluh golongan barang (HS 2 digit) di atas memberikan kontribusi 58,67 persen terhadap total impor nonmigas sedangkan dari sisi pertumbuhan impor sepuluh golongan barang tersebut naik 6,17 persen dibandingkan periode yang sama 2024
Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong selama Januari-Oktober 2025 mencapai 19,41 miliar dolar AS atau turun 4,92 persen dibandingkan periode yang sama 2024.
Sedangkan impor barang modal mencapai 2,00 miliar dolar AS naik 11,94 persen dan impor bahan konsumsi mencapai 2,83 miliar dolar AS turun 3,59 persen dan dibandingkan periode yang sama 2024.
Impor barang modal mencapai 2,00 miliar dolar AS naik 11,94 persen dan impor bahan konsumsi mencapai 2,83 dolar AS miliar turun 3,59 persen dibandingkan periode yang sama 2024.
Debora menambahkan apabila dilihat menurut negara asal barang impor nonmigas, Tiongkok masih mencatatkan dirinya sebagai negara asal barang yang masuk Jawa Timur dan yang terbesar selama Januari-Oktober 2025 baik diantara negara-negara Asia maupun dunia dengan peranan sebesar 35,54 persen.
Disusul berikutnya dari Amerika Serikat dan Hongkong yang memberikan kontribusi pada impor nonmigas masing-masing sebesar 6,00 persen dan 4,29 persen.
Nilai impor nonmigas dari Tiongkok sepanjang Januari-Oktober 2025 mencapai 7,23 miliar dolar AS, diikuti Amerika Serikat sebesar 1,22 miliar dolar AS dan Hongkong sebesar 871,92 juta dolar AS.
