Mahasiswa Tulungagung demo protes pembiaran tambang pasir liar Sungai Brantas
- 27 Juli 2020 18:32
Penambang pasir liar menyedot pasir dengan mesin disel dongpeng di aliran Sungai Brantas, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (26/11/2019). Penambangan pasir ilegal oleh lebih dari 47 mesin diesel penyedot pasir dan lima unit alat berat (excavator) di daerah itu sejak 2017 telah menyebabkan dasar Sungai Brantas turun antara 4-7 meter, yang berdampak pada rusak dan berubahnya kontur sungai serta menurunnya aliran air bawah tanah di pemukiman warga sekitar. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/zk
Sejumlah perangkat penyedot pasir menggunakan mesin disel dongpeng terpasang dan siap dioperasikan sementara beberapa penambang pasir liar lain masih bekerja menyedot pasir di aliran Sungai Brantas, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (26/11/2019). Penambangan pasir ilegal oleh lebih dari 47 mesin diesel penyedot pasir dan lima unit alat berat (excavator) di daerah itu sejak 2017 telah menyebabkan dasar Sungai Brantas turun antara 4-7 meter, yang berdampak pada rusak dan berubahnya kontur sungai serta menurunnya aliran air bawah tanah di pemukiman warga sekitar. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/zk
Sejumlah armada truk mengantri giliran mengangkut galian pasir yang ditambang secara ilegal menggunakan perangkat mesin disel dongpeng di aliran Sungai Brantas, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (26/11/2019). Penambangan pasir ilegal oleh lebih dari 47 mesin diesel penyedot pasir dan lima unit alat berat (excavator) di daerah itu sejak 2017 telah menyebabkan dasar Sungai Brantas turun antara 4-7 meter, yang berdampak pada rusak dan berubahnya kontur sungai serta menurunnya aliran air bawah tanah di pemukiman warga sekitar. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/zk
Pekerja tambang pasir liar berupaya memperbaiki mesin disel dongpeng penyedot pasir yang mengalami gangguan teknis di tengah aliran Sungai Brantas, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (26/11/2019). Penambangan pasir ilegal oleh lebih dari 47 mesin diesel penyedot pasir dan lima unit alat berat (excavator) di daerah itu sejak 2017 telah menyebabkan dasar Sungai Brantas turun antara 4-7 meter, yang berdampak pada rusak dan berubahnya kontur sungai serta menurunnya aliran air bawah tanah di pemukiman warga sekitar. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/zk