Mojokerto (ANTARA) - Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mempresentasikan dua program inovasi kepada tim juri Innovative Government Award (IGA) 2025 Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Jakarta.
Dua program tersebut masing-masing dalam genggaman masalah pajak daerah pasti tuntas (Gaman Majapahit) dan Kegiatan cegah penyakit tidak menular nonstop Kota Mojokerto (Kencana Mojo).
"Kota Mojokerto memang kecil, tapi semangat inovasinya besar. Dengan keterbatasan sumber daya alam, kami justru terpacu menciptakan solusi inovatif untuk meningkatkan pelayanan publik," kata Ika Puspitasari dalam keterangannya di Mojokerto, Kamis.
Ia mengatakan, Inovasi pertama, Gaman Majapahit menjadi bukti nyata reformasi birokrasi digital di Kota Mojokerto.
Ia mengatakan, aplikasi ini merupakan pengembangan dari inovasi sebelumnya, Bajak Sambal Terasi, yang memungkinkan warga membayar pajak menggunakan sampah melalui laman.
“Kami ingin pajak daerah bisa dikelola secara efisien dan transparan, sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat. Inovasi ini juga sudah direplikasi di 19 daerah lain, termasuk Gresik, Bangkalan, Jombang, dan Tuban,” katanya.
Inovasi kedua, Kencana Mojo lahir dari keprihatinan meningkatnya penyakit tidak menular. Sebelumnya, layanan kesehatan hanya tersedia di Puskesmas pada jam kerja kini dengan Kencana Mojo, layanan dilakukan 24 jam, bahkan dari pintu ke pintu oleh tim Prameswari dan PSC 119.
“Kami ingin masyarakat bisa melakukan deteksi dini penyakit tidak menular kapan pun dan di mana pun. Karena kesehatan tidak boleh menunggu jam kerja,” kata Ning Ita sapaan akrabnya.
Kencana Mojo telah direplikasi di 10 daerah lain, seperti Kota Batu, Kediri, Probolinggo, dan Kabupaten Sidoarjo.
Ia mengatakan, kolaborasi pentahelix menjadi kunci keberhasilan inovasi, melibatkan pemerintah, akademisi, media, dunia usaha, dan masyarakat (bank sampah, kader, organisasi wanita).
“Kami membuka ruang kolaborasi selebar-lebarnya. Inovasi tak lahir dari satu pihak saja, tapi dari kerja sama lintas sektor,” kata Ning Ita.
