Kediri (ANTARA) - Pemerintah melakukan percepatan program bongkar ratoon dengan target 74 ribu hektare tebu untuk wilayah Jawa Timur (Jatim) sebagai upaya memaksimalkan produksi tebu menuju swasembada gula.
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri mengemukakan pemerintah berupaya membuat berbagai terobosan baru, sehingga produksi tebu baik.
"Rata-rata di petani per tanaman tebu ratoonnya (tunas baru) adalah delapan sampai ke atas, sehingga pemerintah meningkatkan produksi melalui kegiatan bongkar ratoon," katanya saat tanam perdana tebu, di Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kamis.
Dalam program bongkar ratoon, di Jatim luasan lahan tebu hingga 74 ribu hektare. untuk di Kabupaten Kediri adalah 7.000 hektare.
Pihaknya berharap dukungan dari berbagai pemangku kebijakan agar program itu bisa terealisasi dengan baik. Pemerintah menargetkan program itu bisa tuntas hingga akhir 2025.
Ia menambahkan, dalam program tersebut maksimal satu petani punya 5 hektare lahan. Mereka diberikan bantuan berupa 60 ribu mata (tunas baru) untuk 1 hektare atau sekitar 8-10 ton tebu.
Senior Executive Vice President (SEVP) Pengembangan PT SGN Putu Sukarmen menambahkan dalam program bongkar ratoon tersebut, petani diberikan tebu dengan varietas terbaik yakni Bululawang.
Bibit ini dipilih karena sudah tersertifikasi, panjang umur tanaman antara 12 bulan hingga 13 bulan, produksi bisa mencapai 100 ton hektare bahkan bisa 200 ton jika bagus, dan rendemen yang tinggi, serta tahan kekeringan.
Pihaknya menyebut, pemerintah memang terus berupaya agar tercapai swasembada gula. Untuk mencapainya, produktivitas tebu tidak boleh kurang dari 100 ton per hektare dan rendemen tidak boleh kurang dari angka 8, sehingga varietas unggul harus dipenuhi.
Pemerintah, kata dia, juga sudah mengalokasikan anggaran hingga Rp1,6 triliun dalam program Bongkar Ratoon tersebut.
"Anggaran Rp1,6 triliun untuk tebu saja, sehingga kita buktikan bongkar ratoon bukan 'omon-omon'," kata dia.
Wakil Bupati (Wabup) Kediri Dewi Mariya Ulfa mengatakan sesuai arahan Presiden Prabowo, pada 2027 harus bisa swasembada gula.
Di Kabupaten Kediri ada 7.000 hektare untuk lahan tebu dan yang masih dikerjakan untuk program itu baru 2.500 hektare.
Ia menyebut, pemerintah sangat mendukung petani tebu, apalagi tanaman ini banyak dibudidayakan. Selain itu, juga ada tiga pabrik gula yakni dua di wilayah Kota Kediri dan satu di Kabupaten Kediri.
Selama ini, untuk suplai tebu di pabrik gula wilayah kota pun juga banyak disediakan dari wilayah Kabupaten Kediri.
"Dukungan pemerintah menyediakan lahan. Kami di Kediri sudah terbukti dari dulu banyak petani tebu. Pabrik gula ada tiga, meskipun di kota, yang menyuplai petani Kabupaten Kediri," kata Wabup.
Selain itu, kata dia, di Kabupaten Kediri juga ada varietas tebu lokal yakni Panjalu 1 yang hasilnya juga bagus. Pemerintah mendukung inovasi untuk menghasilkan bibit berkualitas tinggi sehingga dengan lahan yang sama bisa panen lebih besar.
"Target per hektare 120 ton, saat ini per hektare 109 ton. Harapannya bisa memenuhi 120 ton sehingga inovasi terus dilakukan untuk menghasilkan panen yang lebih banyak," kata dia.
Wabup juga menambahkan, pemerintah memberikan fasilitas BPJS Ketenagakerjaan bagi buruh tebu selama masa tebang. Untuk jumlahnya sesuai dengan jumlah di program bongkar ratoon.
Fasilitas itu diberikan karena buruh tebu juga rawan menjadi korban kecelakaan, sehingga pemerintah memastikan ada jaminan keselamatannya.
