Bondowoso (ANTARA) - "Saya merasakan betul manfaat dari tabungan emas dan investasi emas batangan ini, ketika anak-anak sudah mulai kuliah," kata Evy, warga Bondowoso, Jawa Timur.
Perempuan yang berprofesi sebagai guru ini menjelaskan, pada 2024, anak keduanya diterima di perguruan tinggi di Yogyakarta dan anak pertama sudah kuliah di Jember.
Saat bersamaan, ia juga memiliki anak asuh yang dikuliahkan di Jember. Dengan demikian, saat bersamaan ia membutuhkan uang tunai sekitar Rp15 juta untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) dan keperluan lain untuk kuliah anak-anaknya.
Menghadapi keperluan itu, ia langsung teringat dengan simpanan emas batangan atau logam mulia yang dibelinya secara tunai dan mencicil di Pegadaian.
"Alhamdulillah, meskipun saya harus menanggung biaya yang lumayan besar untuk biaya anak-anak kuliah, tidak membuat bingung," kata perempuan yang sudah menjadi nasabah di Pegadaian, atas nama suaminya, sejak 2013 itu.
Saat awal berinvestasi itu, katanya, harga emas batangan masih sekitar Rp500 ribu per gram. Harga itu terus naik, yang saat ini sudah mencapai Rp2 juta lebih per gram.
Perkembangan layanan di perusahaan milik negara (BUMN) itu tidak hanya melayani pembelian emas batangan secara tunai. Pada 2015, Pegadaian melayani pembelian emas dengan cara mencicil.
Evy bertambah semangat untuk mengamankan finansial keluarganya itu, apalagi harga emas terus naik. Evy yang terbiasa berbagi kabar membahagiakan kepada teman-temannya, akhirnya menularkan "virus" membeli emas batangan tersebut kepada guru lain.
Kebetulan, Evy dianggap sebagai "induk semang" oleh beberapa guru muda di Bondowoso, sehingga dia sering berbagi cerita pengalaman mengenai emas batangan kepada guru-guru lain.
Awalnya para guru muda itu tidak tertarik, tapi beberapa bulan atau tahun kemudian mulai banyak yang mengikuti langkahnya, dengan ikut membeli emas batangan.
"Bahkan, ada beberapa guru yang bilang menyesal, kok tidak dari awal ikut saya menabung emas ini, setelah mereka merasakan manfaatnya," katanya.
Siti Bolkiah, salah satu guru yang akhirnya ikut saran Evy untuk menabung emas, bersemangat menceritakan manfaat dari tabungan tersebut.
Selain menjadi langkah pengamanan keuangan keluarga, sehingga uang gajinya tidak banyak "lari" untuk kebutuhan konsumtif, Siti juga merasakan bagaimana emas batangan itu sangat membantu menyelamatkan kebutuhan mendadak terkait kebutuhan biaya pendidikan anak-anaknya.

"Meskipun anak-anak saya masih di tingkat sekolah dasar, tapi dua anak saya itu di sekolah swasta, sehingga biayanya lumayan besar. Alhamdulillah, emas batangan ini membantu menyelamatkan," katanya.
Pada saat memenuhi kebutuhan membiayai sekolah anaknya, ia tidak menjual emas batangan miliknya, melainkan digadaikan ke Kantor Pegadaian.
Siti kenal dengan Pegadaian sejak 2016 karena sering diajak oleh Evy. Berawal dari menemani Evy berurusan dengan kantor Pegadaian, akhirnya ia termotivasi untuk ikut membeli emas batangan dengan cara mencicil. Mencicil menjadi pilihan, karena saat itu ia masih berstatus sebagai guru honorer.
Setelah merasakan banyak manfaat dari memiliki emas batangan itu, ia mulai sering mencicil, termasuk membeli lelang emas perhiasan, juga di Pegadaian. Siti bisa membangun dapur di rumah barunya terbantu dari menggadaikan perhiasan di Pegadaian.
"Untuk kebutuhan mendesak biaya pendidikan anak, saya juga menggadaikan emas. Sampai saat ini, saya tetap bertahan di Pegadaian karena layanannya mudah, cepat cairnya, cepat prosesnya dan murah bunga pinjamannya," kata ibu dua anak ini.
Awal mula dia memiliki logam mulia dari Pegadaian pada tahun 2016, saat emas batangan Antam di harga sekitar Rp800 ribuan.
Emas itu dibelinya lewat cara tabung emas. Karena sudah merasakan manfaatnya itu, maka ia selalu menyisihkan uang dari gaji sertifikasinya, sehingga dapat menambah koleksi emas batangan, termasuk di tabungan emas.
Bahkan, Siti juga pernah mendapat predikat sebagai nasabah platinum di Pegadaian Bondowoso, setelah memanfaatkan modal usaha dari menggadaikan emas batangan di perusahaan milik negara tersebut untuk membuka usaha.

Siti juga memiliki kisah menarik yang selalu membawanya tertawa bersama dengan Evy terkait pembelian emas lelangan di Pegadaian.
Suatu ketika, Evy mengabarkan ke Siti kalau di Pegadaian ada cincin kawin yang dilelang dengan ukiran nama yang sama dengan nama suami Siti. Singkat kisah, ia membeli cincin tersebut.
"Kebetulan waktu saya menikah dengan suami tidak mendapat cincin kawin. Maklum, saat itu saya dan suami masih sama-sama merintis menjadi guru, sebagai guru honorer. Alhamdulillah, cincin itu sampai sekarang masih ada, meskipun tidak saya pakai, karena sudah kekecilan," katanya tertawa.
Kala itu, harga cincin kawin seberat 3 gram tersebut Rp1.450.000. Setelah sekitar 9 tahun, nilainya kini sudah melonjak menjadi sekitar Rp4,5 juta.
"Karena itu, untuk urusan emas ini, saya tidak ingin pindah ke lain hati, eh, ke di luar Pegadaian," katanya.
Sementara itu, Pimpinan Pegadaian Cabang Bondowoso Hendra Susanto menjelaskan bahwa secara umum masyarakat Bondowoso yang budayanya berbasis Madura, kurang meminati investasi emas batangan, termasuk tabungan emas.
Hal itu karena budaya masyarakat Madura lebih menyukai investasi emas jenis perhiasan. Karena itu, awal-awal Hendra menjadi pemimpin di Pegadaian Bondowoso terus melakukan pendekatan dan komunikasi dengan berbagai kalangan.
Pendekatan yang dilakukan dengan penuh ketekunan dan kesabaran itu lama-lama membuahkan hasil. Masyarakat Bondowoso yang awalnya tidak memberi perhatian pada tawaran emas batangan, termasuk tabungan emas, akhirnya tertarik.
"Pernah saya pendekatan ke seorang pedagang di Kecamatan Pujer, pulang dengan tangan hampa. Tapi saya tidak putus asa. Saya datangi lagi, belum juga tertarik. Setelah beberapa kali didatangi, akhirnya dia tertarik. Saat itu, dia langsung beli 150 gram, dengan mencicil," katanya.
Bukan hanya ke perorangan, sosialisasi mengenai tabungan emas ini Hendra lakukan bersama tim ke beberapa kelompok masyarakat, termasuk kelompok profesi, sehingga masyarakat yang memahami manfaat dari tabungan emas ini, semakin banyak.
Kalau pada 2024 peminat untuk cicil Emas Batangan Galery 24 Pegadaian di Cabang Bondowoso masih relatif rendah, maka pada 2025, dari Januari hingga September saja sudah closing 11 kilogram.
Meskipun umumnya nasabah di Pegadaian Bondowoso adalah pedagang dan petani, saat ini sudah banyak dari kalangan aparatur sipil negara (ASN) dan profesi lainnya yang merasakan manisnya manfaat dari produk atau program yang ditawarkan oleh Pegadaian.
Dia menjelaskan beberapa keuntungan yang paling tampak dari tabungan emas ini dibandingkan dengan tabungan uang di bank adalah mengenai biaya administrasi.
Ia pernah menunjukkan kepada calon nasabah mengenai perbandingan menabung uang Rp1 juta di bank dengan tabungan emas di Pegadaian.
Tabungan itu sama-sama dibiarkan selama kurang lebih 6 bulan. Si calon nasabah paham dan membuktikan sendiri bahwa nilai di tabungan emas justru bertambah, meskipun ada biaya titip Rp30 ribu dalam satu tahun, sedangkan tabungan di bank justru berkurang karena dipotong banyak untuk biaya administrasi.
Hendra juga bercerita pengalaman pribadi mengenai tabungan emas, dengan menggunakan aplikasi Pegadaian Digital.
Suatu ketika, anaknya yang ada di pondok pesantren memerlukan kiriman uang segera. Ia tinggal membuka aplikasi Pegadaian Digital di HP, kemudian transfer ke rekening anaknya.
Saat itu, ia tidak memilih mengambil atau menjual tabungan emas batangan tersebut, melainkan menggadaikan. Dengan kebutuhan uang Rp1 juta tersebut, emas yang digadaikan tertera sekitar 0,5 gram.
Pilihan menggadaikan itu dilakukan, karena dengan demikian, seorang nasabah termotivasi untuk menebusnya, sehingga nilai tabungan emasnya tidak berkurang.
Karena itu, ia menyarankan kepada para nasabah agar mengunduh dan memanfaatkan aplikasi Pegadaian Digital, yang di dalamnya banyak memberikan layanan memudahkan bagi masyarakat.
Layanan yang bisa dinikmati dari aplikasi Pegadaian Digital itu, antara lain gadai online untuk pinjaman dengan jaminan, tabungan emas untuk investasi emas, pembelian dan investasi emas, serta cicil emas.
Selain itu, nasabah juga dapat melakukan pembayaran tagihan berbagai kebutuhan, seperti pembayaran untuk PDAM, bayar rekening listrik, BPJS, dan lainnya.
Lewat aplikasi itu, nasabah juga dapat melakukan isi ulang atau top up berbagai produk, seperti pulsa atau e-wallet.
Langkah menabung emas yang dilakukan oleh Evy dan Siti, serta para nasabah lainnya di Bondowoso, sekilas hanya merupakan upaya untuk menyelamatkan keuangan keluarga mereka.
Lewat tabungan emas itu, Evy, Siti, dan nasabah lain telah menjadi bagian dari program "Pegadaian mengEMASkan Indonesia".
Selain itu, pilihan mereka pada tabungan emas juga merupakan bagian dari ikut mendukung upaya pemerintah secara nasional terkait dengan program Bank Emas.
Presiden Prabowo Subianto, saat meresmikan layanan Bank Emas Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia, di Jakarta, pada 26 Februari 2025, menyatakan bahwa ini adalah momen bersejarah bagi pengelolaan emas nasional, seiring dengan peningkatan produksi emas Indonesia yang kini mencapai 160 ton per tahun, sebagaimana dikutip dari laman setneg.go.id.
Layanan bank emas ini diharapkan dapat mempercepat tabungan emas masyarakat, meningkatkan cadangan emas negara, serta memperkuat stabilitas moneter.
Seberapapun besaran nilainya tabungan emas Evy, Siti, dan nasabah lain di Bondowoso, mereka telah menjadi bagian dari ikhtiar negara untuk membawa bangsa ini makmur lewat kekayaan emas. Mari kita #mengEMASkanIndonesia.
