Ponorogo, Jawa Timur (ANTARA) - RSUD Hospitel Bantarangin, Ponorogo, Jawa Timur memanfaatkan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) senilai Rp6 miliar untuk peningkatan mutu pelayanan, mulai pengadaan alat kesehatan, obat-obatan, hingga pelatihan sumber daya manusia (SDM).
Direktur RSUD Hospitel Bantarangin drg. Enggar Tri Adji Sambodo, Senin mengatakan, tambahan fasilitas tersebut tidak hanya memenuhi standar pelayanan, tetapi juga memberi rasa aman bagi pasien dan keluarga.
"Dengan adanya DBHCHT, kami bisa memenuhi standar Kemenkes dan BPJS, terutama di sektor pelayanan. Jadi masyarakat yang berobat di sini merasa lebih tenang," kata Enggar di Ponorogo.
Salah satu pengadaan penting yakni ventilator. Tahun ini rumah sakit menambah dua ventilator baru, sehingga kini tersedia tiga unit untuk ruang intensive care unit (ICU) dengan kapasitas empat tempat tidur.
"Aturan terbaru BPJS mengharuskan minimal 75 persen tempat tidur ICU tersedia ventilator. Tambahan dua ventilator ini membuat kami bisa memenuhi kebutuhan itu," ujarnya.
Selain alat kesehatan, lanjut Enggar, DBHCHT juga mendukung peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan dan sertifikasi tenaga kesehatan.
Hal itu dilakukan agar pelayanan semakin cepat, tepat, dan sesuai standar akreditasi.
Pada 2024, RSUD Hospitel Bantarangin juga menerima alokasi DBHCHT sebesar Rp5 miliar yang digunakan untuk pengadaan fasilitas kesehatan.
"Setiap rupiah kami manfaatkan untuk pelayanan masyarakat, karena kesehatan pasien adalah tujuan utama," katanya menegaskan.
