Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur menggelar doa bersama sebagai tanda mengawali pelaksanaan program Kampung Pancasila yang tersebar di 1.360 titik di 153 kelurahan di Kota Surabaya, Senin.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Kota Surabaya mengatakan kegiatan ini diikuti seluruh jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, hingga lurah di lingkungan Pemkot Surabaya.
"Melalui program ini, kami ingin taraf hidup masyarakat Kota Surabaya bisa lebih baik ke depannya. Maka dari itu, melalui Kampung Pancasila dirinya ingin semua warga miskin, ibu hamil risiko tinggi, anak putus sekolah, hingga pengangguran terbuka bisa terdata dengan baik," ujarnya.
Ia mengatakan kepala OPD yang bertugas memberikan pendampingan akan dibagi 15 tim setiap harinya yang diharapkan bisa menjalankan Kampung Pancasila dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan.
"Apa yang saya katakan Kampung Pancasila ini adalah kampung yang kita (ajak) benar-benar menjalankan Pancasila secara utuh, bukan hanya dalam lisan, tapi dalam hal perbuatan. Jadi apa? Seperti yang diajarkan agama kita, ada tolong-menolong, ada gotong royong, sama seperti Pancasila. Maka di situ kita akan gugah," ujarnya.
Melalui Kampung Pancasila, kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, nantinya warga akan diajak untuk saling bergotong royong membangun kampungnya masing-masing seperti jika ada warga yang mampu membantu warga lainnya yang kurang mampu.
"Selain itu, setiap warga juga diajak untuk bergotong royong menjaga keamanan kampungnya sekaligus melibatkan anak muda untuk menjaga keamanan di kampungnya masing-masing," ujarnya
Ia menekankan setelah Kampung Pancasila berjalan setiap ketua RW harus bisa memastikan bahwa sudah bisa melakukan pemilahan sampah, menggerakkan karang taruna,m dan perekonomian di kampungnya
Dirinya juga meminta kepada setiap kepala OPD dan ASN pendamping untuk melakukan pendataan terhadap warga miskin, ibu hamil risiko tinggi, anak putus sekolah, stunting, hingga pengangguran terbuka.
"Jadi nanti kita bisa tahu oh di dalam RW ini (warga) yang membantu siapa? Kemudian (didata) ada berapa ibu hamil. Maka akan tahu, ketika (ada) ibu hamil berisiko tinggi, ketika akan ke rumah sakit manapun jangan disuruh melahirkan secara normal, karena sudah bahaya. Maka, dia melahirkannya akan dilakukan secara sesar. Dan ini sudah terkoneksi (datanya)," katanya.
