Surabaya (ANTARA) - Petani Melon asal Desa Purwotengah, Kediri, Arif Nur Azis mengakui upaya menjaga kualitas tanaman pada tahun ini menghadapi banyak hambatan, karena cuaca yang tidak menentu serta meningkatnya potensi serangan virus tanaman.
"Kondisi cuaca yang tidak menentu turut memperburuk situasi. Ketika suhu tidak stabil dan curah hujan tinggi, tanaman menjadi lebih rentan terhadap infeksi virus dan penurunan performa secara keseluruhan," kata Arif, dalam keterangan persnya di Surabaya, Selasa.
Selain itu, petani lain, Edi juga mengakui bahwa beberapa buah melon bahkan mengalami keretakan atau bentuk yang tidak sempurna, sehingga tidak memenuhi standar kualitas pasar.
Mujet, seorang Owner Saclar Buah Group di Kediri, berharap ada pendampingan lebih lanjut dalam hal pengendalian penyakit tanaman serta peningkatan akses terhadap varietas benih yang tahan virus karena menyengkut hasil yang dihasilkan.
Ia mengatakan, Pemprov Jatim melalui dinas pertanian setempat juga telah melakukan pemantauan dan merespons kondisi ini dengan rencana peningkatan edukasi bagi petani serta penguatan sistem monitoring kesehatan tanaman.
"Situasi ini menjadi pengingat penting bahwa sektor pertanian hortikultura, khususnya melon, membutuhkan sistem pertahanan yang lebih adaptif dan responsif terhadap dinamika iklim serta potensi serangan virus tanaman," katanya.
Oleh karena itu, kata dia, kolaborasi antara petani, pemerintah dan pihak swasta sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlangsungan produksi di tengah tantangan yang terus berkembang.(*)
