Oleh Louis Rika Stevani
Magetan - Melihat bangunannya, sepintas Masjid Kembang Sore atau Masjid Tiban di Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan tak ada bedanya dengan masjid modern pada umumnya. Hal ini karena Masjid Tiban telah berulang kali direnovasi, termasuk penambahan bangunan baru di bagian depan masjid.
Keaslian bangunan masjid kuno ini baru bisa dilihat pada bangunan utamanya yang masih dipertahankan. Corak arsitektur Jawa bisa dilihat dari empat soko guru atau tiang utama di dalam masjid yang terbuat dari kayu. Karena empat soko guru itulah masjid ini disebut dengan Masjid Tiban.
Ciri lain dari corak arsitektur Jawa pada masjid kuno ini terlihat pada bangunan utamanya yang berbentuk Joglo dengan tiga buah pintu utama.
Letaknya yang berada di wilayah dataran tinggi, yakni di lereng Gunung Lawu, membuat masjid ini tidak begitu dikenal masyarakat Magetan dan sekitarnya secara luas.
Bagi wisatawan yang ingin berwisata sekaligus menambah keyakinan, sangat tepat untuk berkunjung ke masjid ini. Mengendarai sepeda motor ataupun kendaraan pribadi merupakan cara yang paling mudah untuk menuju ke masjid ini. Diperkirakan, butuh waktu hampir satu jam dari Kota Magetan untuk mencapai masjid ini .
Meski dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai Masjid Tiban atau masjid yang berdiri tanpa campur tangan manusia, namun dari sisi sejarah, kehadirannya tidak lepas dari peran seorang ulama yang bernama Nolodipo atau lebih di kenal dengan Kiai Ageng Kembang Sore.
Nolodipo adalah pemimpin prajurit Kerajaan Mataram yang pada tahun 1628 terlibat perang dengan pasukan Belanda. Dalam pelarianya di kawasan hutan lereng Gunung Lawu itulah, Nolodipo menemukan empat tiang yang berdiri kokoh di atas sebuah bukit. Empat tiang tersebut selanjutnya ia kembangkan menjadi sebuah masjid.
Nama Kembang Sore tersebut juga dipercaya dari kesaktian Nolodipo yang menanam kembang atau bunga di kawasan setempat pada pagi hari dan sorenya langsung berbunga.
"Sehingga, secara turun-temurun, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Tiban atau Masjid Kembang Sore, sebagai nama samaran Nolodipo dari kejaran pasukan Belanda," ujar Takmir Masjid Tiban, Karno.
Menurut Karno, empat soko guru dalam masjid merupakan ciri khas dari masjid peninggalan Kerajaan Mataram. Hal lain yang merupakan ciri khas dari Kerajaan Mataram adalah mimbar tempat penceramah.
Konstruksi mimbar masjid masih dipercaya seperti bentuk aslinya, yakni kayu yang dilengkapi dengan ukiran motif Kerajaan Mataram Islam. Sedangkan, kubah masjid sendiri telah mengalami perubahan dan renovasi.
Hingga kini Masjid Tiban telah dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Magetan, selain Masjid Tegal Rejo dan Masjid Tamanarum. Masjid Tiban dipercaya memiliki nilai sejarah dan berperan dalam syiar agama Islam di kawasan lereng Gunung Lawu.
Tempat Berziarah
Sampai saat ini juga, Masjid Tiban atau Kembang Sore tetap digunakan sebagai pusat aktivitas ke-Islaman oleh masyarakat Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan.
Saat bulan Ramadhan seperti sekarang, pengunjung dari luar daerah Magetan ramai mengunjungi masjid dan makam kuno Kiai Ageng Kembang Sore, untuk berziarah.
"Selama bulan Ramadhan, masjid ini juga melakukan berbagai kegiatan selain shalat lima waktu, di antaranya tadarus, buka puasa bersama, dan pengajian," terang Karno.
Sedangkan, makam Kiai Ageng Kembang Sore yang terletak di kompleks kuburan kuno sebelah barat masjid, sering menjadi tempat ziarah para pendatang dari berbagai daerah asal.
"Selain melakukan ibadah, saya juga selalu berziarah ke makam Kiai Kembang Sore yang berada di belakang area masjid. Para peziarah percaya, selain sakti, semasa hidupnya dulu Kiai Kembang Sore memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah Magetan dan sekitarnya," ujar salah satu pengunjung asal Maospati, Magetan, Suratno.
Bahkan karena syiarnya, banyak tokoh penting di Magetan yang menjadi muridnya dan ikut mengembangkan agama Islam di wilayah Magetan.
"Di komplek pemakaman tersebut juga terdapat makam sejumlah Bupati Magetan zaman dulu yang telah menjadi murid dari Kiai Kembang Sore. Para tokoh ini ikut menyebarkan agama Islam dan budaya Kerajaan Mataram," tambah Takmir Masjid Tiban, Karno.
Kini usia Masjid Tiban diperkirakan sekitar 200 tahun, namun masjid tersebut masih kokoh berdiri, sekokoh nilai sejarah yang secara turun-temurun diceritakan para orang tua kepada generasi mudanya. Baik nilai sejarah perjuangan kemerdekaan melawan Belanda hingga sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Magetan dan sekitarnya. (*)
Melihat Daya Tarik Masjid Tiban Peninggalan Mataram
Jumat, 10 Agustus 2012 10:36 WIB
