Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyebut pentingnya perubahan budaya kerja baru yang lebih kolaboratif dalam mengendalikan penduduk untuk mencegah krisis demografi.
“Kita tidak hanya bicara pengendalian penduduk, tapi bagaimana penduduk tumbuh seimbang dan kualitas hidup meningkat. Jangan sampai kita menghadapi krisis demografi seperti negara-negara maju," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Ia menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur di Surabaya pada Selasa (6/5), sekaligus menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan dan keluarga.
Dalam kunjungan tersebut, Wihaji sekaligus menandatangani prasasti Ruang Terbuka Hijau, dilanjutkan dengan dialog bersama seluruh pegawai.
Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada para pegawai yang bekerja di lini lapangan dan telah menjalankan berbagai program terbaik hasil cepat (quick wins), seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), AI SuperApp berbasis keluarga, serta Lansia Berdaya.
"Terima kasih bapak ibu yang punya tugas luar biasa di lini lapangan untuk mengerjakan lima quick wins kita. Kinerja teman-teman adalah kunci keberhasilan," ucapnya.
Mendukbangga juga menekankan pentingnya komunikasi dalam keluarga, utamanya di tengah derasnya arus digital.
"Kita harus aktif membangun komunikasi di rumah. Jangan sampai anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada orang tuanya," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Wihaji juga turut menanam pohon beringin sebagai salah satu cerminan komitmen pelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari pembangunan keluarga.
"Pohon beringin ini bukan hanya pohon, tapi simbol naungan, perlindungan, dan keseimbangan. Kita ingin Kemendukbangga/BKKBN menjadi naungan yang teduh bagi keluarga-keluarga Indonesia," tuturnya.
Menurutnya, jika persoalan dalam keluarga bisa diselesaikan, sebagian besar masalah sosial dan ekonomi juga dapat terurai.
"Menjadi pekerjaan rumah kita untuk memastikan bagaimana keluarga berencana itu berjalan, di mana terdapat tiga indikator yaitu mandiri, tenteram, dan bahagia," paparnya.
Ia optimis dengan pendekatan yang lebih segar dan menyentuh akar permasalahan keluarga, program-program kementerian akan lebih berdampak nyata.
"Mari kita bangun budaya baru, yang lebih adaptif, partisipatif, dan fokus pada dampak. Kualitas hidup masyarakat adalah tujuan utama kita," demikian Wihaji.
