Surabaya - Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah mengembangkan "seed vaccine" (bakal vaksin) untuk penyakit "zoonosis", seperti avian influenza (flu burung), brucella, infectious brusal disease, dan infectious bronchitis. "Itu (seed vaccine) merupakan hasil penelitian kami terhadap beberapa penyakit yang bukan prioritas Ditjennak Kesehatan Hewan, tapi dibutuhkan oleh peternak, seperti infectious bronchitis (IB) dan infectious brusal disease (IDB)," kata Wakil Dekan I FKH Unair Dr drh Suwarno M.Si, Kamis. Ia mengemukakan hal itu di sela-sela penandatanganan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjennak Keswan) Kementerian Pertanian dengan lima FKH yakni FKH Unair, FKH IPB, FKH UGM, FKH Udayana, dan FKH Univeritas Syiah Kuala (Unsyiah) di Auditorium FKH Unair Surabaya. "Penyakit zoonosis masih menjadi permasalahan dalam industri peternakan di Indonesia. Kemeterian Pertanian mencatat beberapa kasus epidemi zoonosis telah memukul peternak di Indonesia dan memberikan kerugian besar. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka bekerja sama dengan fakultas kedokteran hewan," katanya. Penandatanganan MoU itu merupakan upaya pembaharuan dari kerja sama sebelumnya. Pada tahun 2009, FKH Unair sudah menandatangani kerja sama dengan Dinas Peternakan, namun pada tahun 2011, Dinas Peternakan berganti nama menjadi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Departemen Pertanian yang membawahinya berganti nama menjadi Kementerian Pertanian. "Karena itu, Ditjennak Keswan kemudian mengusulkan untuk memperbarui kerja sama sebelumnya, sekaligus memasukkan empat FKH lain dalam kerja sama tersebut," katanya dalam acara yang dihadiri Dirjennak Keswan Ir. Syukur Iwantoro MS MBA. Didampingi perwakilan FKH IPB Dr Fadjar Satrija, Pembantu Dekan I FKH UGM Prof Dr drh Wayan T. Artama, Dekan FKH Udayana Prof Dr drh I Made Damriyasa MS, dan Dekan FKH Unsyiah Dr drh Muhammad Hambal, ia menjelaskan, tujuan kerja sama ini utamanya adalah pengembangan sumber daya manusia, penelitian di bidang ekologi dan kesehatan hewan, serta pengabdian pada masyarakat. "Program utama yang diusung oleh Ditjennak Keswan adalah pemberantasan penyakit zoonosis, bahkan mereka telah menetapkan 12 penyakit zoonosis yang harus diberantas, di antaranya rabies, anthrax, brucella, salmunellosis, new castle disease, leptospirosis, anthrax, dan avian influenza," katanya. Sebagai salah satu FKH terbaik di Indonesia, FKH Unair telah memfokuskan penelitian pada beberapa penyakit zoonosis, yaitu avian influenza, rabies, brucella, dan rabies. "Kami memilih untuk berfokus pada penyakit-penyakit tersebut tersebut karena disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Jawa Timur. Penyakit zoonosis yang sering dihadapi oleh peternak Jawa Timur adalah avian influenza, rabies, dan brucellosis," katanya. (*)
Berita Terkait
Unair tambah guru besar FKH guna dukung ketahanan pangan nasional
24 Februari 2025 19:18
Polisi selidiki tewasnya mahasiswa kedokteran hewan Unair di dalam mobil
5 November 2023 19:43
Mahasiswa FKH Unair temukan obat PMK dari tanaman kangkung air
2 Oktober 2023 19:10
SAR evakuasi Tim FKH Unair dan dua nelayan setelah otopsi Paus Balin
16 Mei 2023 23:54
Pemprov Jatim libatkan FKH Unair teliti sampel paus terdampar di Bangkalan
19 Februari 2021 19:32
Takmir Masjid se-Surabaya Ikuti Pelatihan Penyembelihan Hewan Kurban
26 Juli 2018 08:23
