Magetan - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan melakukan panen perdana jati unggul nusantara (JUN) dengan pola bagi hasil umur lima tahun di Desa Sumursongo, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Senin. Panen jati unggul dengan pola bagi hasil umur lima tahun ini merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia, bahkan dunia. Sebab, selama ini, jati yang dipanen dengan kualitas sama biasanya memiliki masa tanam 30 hingga 40 tahun dengan diameter 20 cm hingga 30 cm. "Ini merupakan kemajuan. Kecepatan panen ini menyamai pohon Sengon yang bisa dipanen dalam lima tahun. Ke depan kualitas bibit jati unggul akan terus diperbaiki," ujar Menhut Zulkifli kepada wartawan. Dari keberhasilan itu, Zulkifli bahkan mengajak masyarakat untuk berinvestasi di bidang kehutanan. Menurut dia, dengan modal satu bibit JUN senilai Rp70 ribu, lima tahun ke depan akan bisa dipanen dengan harga pohon yang mencapai lebih dari Rp1 juta. Artinya, lanjutnya, apabila berinvestasi 1.000 bibit atau sekitar Rp70 juta, lima tahun mendatang bisa meraup hasil hingga lebih dari Rp1 miliar. "Ini kesempatan bagus untuk bapak dan ibu pegawai jelang pensiun. Jika saat ini bisa berinvestasi 1.000 bibit JUN saja, maka lima tahun mendatang mungkin bisa naik haji satu keluarga," kata dia saat memberi sambutan. Ketua Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (KPWN) Dephut RI, M Ali Arsyad, mengatakan, jati yang ditanam merupakan bibit "klon" jati unggul melalui test DNA. Pengembangan bibit ini merupakan hasil kerja sama Unit Usaha Bagi Hasil Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (UBH-KPWN) dengan UGM. "Sejak 2007 hingga awal 2012, sudah ada 246.293 pohon JUN yang ditanam dengan pola bagi hasil. Jumlah tersebut melibatkan 1.200 petani penggarap, 1.200 pemilik lahan, yang tersebar di 58 desa, dengan 1.091 jumlah investor," kata Ali Arsyad. Hasil panen perdana JUN pola bagi hasil ini seluruhnya dibeli oleh PT Djubah Nusantara dari Pasuruan. Kemudian, produk ini diolah menjadi "Finger Joint Laminating Flooring" oleh PT FS Asia Raya dan kemudian diekspor ke Jepang. "Diameter pohon yang dipanen sebesar 20 hingga 30 centimeter, jika diukur pada ketinggian 130 centimeter. Ukuran itu kalau diproduksi pada jati konvensional baru bisa panen pada usia 30 atau 40 tahun. Karena itu perlu dikembangkan," kata dia bangga. Dalam kesempatan panen perdana JUN tersebut, Menhut juga didampingi oleh Bupati Magetan Sumantri, Kepala Kepolisian Resor Magetan AKBP Agus Santosa, dan pejabat daerah lainnya. (*)
Berita Terkait
Kemenhut repatriasi empat orangutan korban perdagangan ilegal
24 Desember 2025 12:03
Pemerintah mulai relokasi masyarakat bermukim di TN Tesso Nilo
20 Desember 2025 22:30
Menhut segera cabut 20 izin PBPH, termasuk di area banjir Sumatera
5 Desember 2025 12:40
Menhut: Deforestasi turun di 3 provinsi terdampak banjir Sumatera
4 Desember 2025 14:49
Menhut: Bencana di Sumatera titik balik perbaikan tata kelola hutan
29 November 2025 16:15
Menhut berterima kasih ke warganet dukung restorasi TN Tesso Nilo
28 November 2025 21:30
Menhut: Perhutanan sosial strategi wujudkan keadilan ekologi-ekonomi
27 November 2025 11:44
Menhut: Indonesia siap pimpin pengembangan pasar karbon global
10 November 2025 20:25
