Jember - Rais Syuriah PBNU KHA Hasyim Muzadi menegaskan bahwa Indonesia saat ini dikeroyok ideologi transnasional dari Timur dan Barat, di antaranya syiah, wahabi, khawarij, hizbut tahrir, mujahidin, ihwanul muslimin, kapitalisme, liberalisme, dan sebagainya. "Mereka punya banyak uang dan bisa bikin media untuk menjelek-jelekkan ideologi ala Indonesia yang selama ini dikembangkan NU dan Muhammadiyah," katanya saat memberikan pengarahan pada peserta Muskerwil PWNU Jatim di Pesantren Assunniyah, Kencong, Jember, Minggu petang. Di hadapan peserta Muskerwil dari 44 cabang se-Jatim, mantan Ketua Umum PBNU itu menjelaskan ideologi transnasional dari Timur dan Barat itu mengeroyok lewat tempat strategis seperti masjid, mushalla, dan universitas yang kurang "dirawat" masyarakat setempat. "Karena itu, pemerintah dan masyarakat hendaknya menyemarakkan masjid, mushalla, dan universitas dengan pengajian kitab secara rutin yang mungkin saja memanfaatkan santri senior yang ada di pesantren terdekat untuk mengajar masyarakat setempat secara rutin," katanya. Dalam kesempatan itu, Presiden ICIS itu menyatakan adanya dua realitas yang bertentangan yakni realitas konsep "Rahmatan Lil Alamin" ala Islam di Indonesia yang diterima kalangan asing dan realitas ideologi Timur-Barat yang justru mengeroyok Indonesia. "Bukti dari penerimaan konsep Rahmatan lil Alamin adalah saya sering diundang masyarakat Filipina, Thailand, Kosovo, dan sebagainya untuk membantu konflik agama yang terjadi dengan menerapkan penyelesaian dari pengalaman Indonesia. Ironis ya," katanya. Menurut dia, serbuan ideologi transnasional dari Timur dan Barat itu justru datang bersamaan dengan tantangan internal yang dialami bangsa Indonesia, yakni tantangan politik, sehingga masyarakat Indonesia pun mengalami kebingungan dan akhirnya gamang untuk menangkal serbuan ideologi transnasional itu. "Tantangan politik itu antara lain sistem yang memungkinkan orang luar biasa bisa menjadi pemimpin karena adanya politik uang, sehingga kalau dibiarkan akan menjadi sumber kerusakan yang maha dahsyat di Indonesia, karena orang Yahudi atau orang radikal bisa memimpin karena uang," katanya. Mantan Ketua PWNU Jatim itu berharap PWNU Jatim mampu tampil sebagai "penyelamat" bangsa dan negara serta institusi NU sendiri dengan merumuskan konsep yang terencana untuk menangkal serbuan ideologi asing yang bertentangan dengan karakter bangsa. Sementara itu, Sekretaris PWNU Jatim HM Masyhudi Muchtar menyatakan muskerwil juga membahas hukum dari politik uang (pilkada), dana talangan haji, sedot pulsa, paham sempalan, dan sebagainya. "Selain membahas masalah organisasi dan rekomendasi, Muskerwil NU Jatim juga membahas 23 masalah agama yang merupakan usulan pengurus cabang dan wilayah," katanya, didampingi Wakil Ketua PWNU Jatim HM Sholeh Hayat. (*)
Berita Terkait
Putra KH Hasyim Muzadi meninggal dunia
18 Desember 2019 10:35
Haul Pertama KH Hasyim Muzadi
18 Maret 2018 15:08
Aktivis Lintas Iman Doa Bersama Kenang Sosok KH Hasyim Muzadi
23 Maret 2017 15:06
Warisan-Warisan Kiai Hasyim Muzadi
19 Maret 2017 11:56
Keluarga: KH Hasyim Muzadi Kecilnya Suka Susu Sapi
18 Maret 2017 14:13
KH Hasyim Muzadi, Ulama cum Negarawan
18 Maret 2017 11:19
Mengenang Pak Hasyim
17 Maret 2017 22:03
Pemkab Banyuwangi Shalat Gaib untuk Hasyim Muzadi
17 Maret 2017 17:07
