Washington (ANTARA/AFP) - Setelah puluhan tahun Amerika Serikat bersuara keras menghadapi dampak negatif murahnya tenaga kerja China pada perusahaan manufaktur dalam negeri, perusahaan-perusahaan di negara tersebut sekarang justru mengkhawatirkan implikasi meningkatnya upah minimum di China. Reaksi pertama yang muncul adalah kemarahan, kemudian depresi dan setelah itu penerimaan. Dalam tiga dasawarsa sejak Deng Xiaoping mulai membuka ekonomi China, perusahaan manufaktur di Amerika Serikat telah melalui lima tahapan muram yang digambarkan dalam teori Elisabeth Kuebler-Ross. Lima tahap Kuebler-Ross tersebut adalah menangisnya industri Amerika Serikat --karena kalah bersaing dengan barang-barang China yang murah yang disebabkan oleh rendahnya upah buruh. Industri tersebut kemudian meraba-raba penyelesaian terbaik, sebelum menerima kenyataan bahwa aturan bermain telah berubah. Solusi terakhir perusahaan manufaktur di Amerika Serikat adalah mengalihkan sebagian produksi barangnya ke China dengan mendirikan pabrik di negara tersebut. Sampai saat ini, masih banyak kemarahan-kemarahan di Amerika Serikat terhadap kemampuan China untuk memproduksi barang berharga murah yang "tidak adil", terutama pada masa-masa pemilihan umum. Namun, rasa sakit yang pahit karena pekerjaan-pekerjaan yang hilang dan tutupnya pabrik --akibat adanya alih produksi ke China-- telah berubah manis pada beberapa tahun terakhir ini. (*)
Berita Terkait
Partai buruh di Korut sebut tidak tepat AS kritik China
4 Juni 2020 13:40
Disperinaker Bojonegoro Datangi Perusahaan Terlkait THR
21 Juni 2017 13:45
Disperinaker Bojonegoro Minta Pengusaha Bagi THR
24 Mei 2017 18:24
Disperinaker: Pengangguran Bojonegoro Capai 22.382 Tenaga Kerja
18 Mei 2017 15:57
Pesangon Mantan Buruh Rokok Bojonegoro Tunggu Putusan Pengadilan
18 April 2017 16:40
113 Buruh Rokok Bojonegoro Tuntut Pesangon
17 April 2017 18:38
Disperinaker Bojonegoro Minta Perusahaan China Melaporkan Perizinan
10 Januari 2017 14:25
Jutaan Warga China Nikmati Liburan Hari Buruh
30 April 2013 04:11
