GG Bantah Beli Pabrik Rokok Retjo Pentung

id gg, bantah, beli, pabrik, rokok, retjo, pentung, di, tulungagung, antarajatim.com

Kediri - Manajemen PT Gudang Garam Tbk di Kediri membantah hendak membeli aset dari Pabrik Rokok Retjo Pentung di Tulungagung yang bangkrut dan berhenti operasi sejak 2005.

"Saat ini, kami tidak sedang melakukan negosiasi, apalagi transaksi dalam bentuk apapun dengan PR Retjo Pentung atau siapapun yang mewakilinya," kata Wakil Direktur SDM PT Gudang Garam Tbk, Slamet Budiono, di Kediri, Rabu.

Ia tidak membenarkan jika PT GG berencana membeli pabrik rokok yang saat ini kolaps tersebut, karena saat ini GG masih ingin konsentrasi untuk pengembangan usaha sendiri.

"Kami ingin kosentrasi di usaha kami sendiri. Belum ada pos untuk pengembangan atau untuk pembukaan cabang baru," katanya.

Ia juga menyebut, niatan untuk pengembangan itu belum diwacanakan, bahkan untuk tahun 2013. Jika memang ada pengembangan, akan dibicarakan dalam rapat internal.

Sebelumnya, sekitar 850 orang mantan buruh PR Retjo Pentung Tulungagung, unjuk rasa di sekitar pabrik mendesak proses negosiasi harga jual pabrik antara PT GG dan Retjo Pentung yang dikabarkan sedang berlangsung tetap mendahulukan kepentingan buruh.

Ada sekitar 1.000 mantan buruh yang tidak mendapatkan pesangon pascapenghentian usaha pada 1995.

Unjuk rasa itu diikuti para buruh linting yang sebagian besar sudah berusia lanjut. Mereka adalah para buruh yang bekerja sudah cukup lama, sekitar 20 tahun, sejak pabrik itu didirikan oleh almarhum Soemiran pada 1948.

Saat ini masih terjadi sengketa antara para buruh dengan keluarga almarhum. Terdapat tiga aset besar di pabrik rokok terbesar di Tulungagung, tapi yang tersisa hanya Unit II dan III, karena Unit I ternyata telah dijual secara diam-diam oleh sembilan orang ahli waris keluarga Soemiran.

Nilai aset dari pabrik itu sekitar Rp60 miliar. PR Retjo Pentung masih mempunyai kewajiban membayar pesangon buruh sekitar Rp11 miliar. Sampai saat ini, negosiasi di antara keluarga dan para buruh belum tuntas. Aset berupa bangunan di tersebut masih disita para buruh sebagai jaminan, dan tidak akan diberikan sebelum pesangon diberikan. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar