Kediri - Ribuan peserta mengikuti kegiatan napak tilas mengikuti rute perang gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dimulai dari taman makan pahlawan (TMP) Kediri, Jawa Timur, Sabtu. Wali Kota Kediri Samsul Ashar mengatakan bangga dengan kegiatan ini. Agenda itu adalah bagian dari memperingati dan mengenang sejarah perjuangan Panglima Soedirman melawan para penjajah. "Ini adalah bagian dari 'nguri-nguri' atau memperingati perjuangan Panglima Soedirman. Beliau adalah salah satu tokoh pejuang yang ikut memerdekakan bangsa ini," katanya saat memberangkatkan para peserta. Kegiatan napak tilas itu adalah agenda tiap tahun yang diselenggarakan oleh pemerintah kota, lewat Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Kediri. Jarak tempuh yang dari kegiatan itu awalnya dimulai dari TMP dan berakhir di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, sekitar 35 kilometer. Namun, pada napak tilas tahun 2011 ini, panitia sengaja memotong jalur, dari semula sampai 35 kilometer dan berakhir di Kabupaten Nganjuk kini hanya sekitar 25 kilometer saja, dan berakhir di Desa Goliman, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. "Saat ini cuaca sering hujan, dan di daerah Loceret Nganjuk (finish lomba gerak jalan Kediri-Bajulan, red) sering longsor," kata panitia acara, Afif Permana. Panitia pun sudah mempersiapkan tempat untuk registrasi, di antaranya di Desa Dasun, Karangnongko, Parang, Goliman. Jika diketahui tidak melakukan regitrasi, panitia menyatakan peserta tersebut gagal sampai akhir. Sejumlah hadiah berupa uang pembinaan dan penghargaan lainnya sudah disiapkan panitia. Seluruh hadiah itu diberikan saat di finihs acara yaitu di Desa Goliman, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Kegiatan tersebut sempat membuat arus lalu lintas di Kediri macet. Jalur utama yang melewati Jalan Brawijaya, Hayam Wuruk, yang merupakan pusat kota di Kediri macet total. Kemacetan juga sudah terlihat sejak pagi, terlebih lagi di di jalur tersebut selain kompleks perkantoran juga kompleks sekolah. Nur, salah seorang karyawan swasta harus mencari jalur alternatif lain untuk sampai ke tempatnya bekerja. Biasanya, ia bisa menempuh perjalanan sekitar 10 menit ke tempatnya bekerja, tapi, karena ada kegiatan ini ia harus memutar hingga memerlukan waktu sekitar 30 menit. "Mau gak mau, harus cari jalan lain, agar tidak terlambat kerja," kata Nur. (*)


Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026