Surabaya - Indonesia dinilai Pakar Ekonomi, Minyak dan Gas Bumi (migas) Universitas Brawijaya Malang, Prof Ahmad Erani Yustika sulit memberhentikan laju ekspor gas ke sejumlah negara potensial. "Alasan utama Indonesia tetap melanjutkan ekspor gas ke beberapa negara dikarenakan sudah adanya kontrak dengan beberapa perusahaan asing," katanya dihubungi dari Surabaya, Jumat. Apalagi, ungkap dia, sampai sekarang Pemerintah Pusat memerlukan dana cepat berupa devisa untuk menutup kekurangan penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Terkait adanya kontrak kerja antara Indonesia dan operator migas asing misalnya dengan China yang memiliki kontrak selama 20 tahun," ujarnya. Dengan adanya kontrak itu, ia mengemukakan, secara otomatis China wajib melakukan pengiriman gas dengan volume tertentu ke China. "Jika pemerintah menghentikan ekspor, Indonesia bisa kena pinalti. Hal tersebut bukan karena Direksi PGN melainkan dengan pemerintah," katanya. Mengenai ekspor gas ke berbagai negara, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur (Jatim), Dewi J Priatni, mengaku, sampai sekarang Jatim sebagai wilayah kedua terbesar di Indonesia tidak pernah ada laporan melakukan ekspor gas ke negara manapun. "Kalaupun ada, berarti selama ini kami kena tipu menyusul dari total laporan yang masuk tidak pernah ada operator gas yang menyatakan bahwa gasnya diekspor," katanya. Apalagi, terang dia, sampai sekarang Gubernur Jatim, Soekarwo pantang meminta anak buahnya untuk melakukan ekspor gas ke sejumlah negara. "Sementara, kondisi di Jatim sendiri saat ini sedang mengalami defisit gas 415 'mmscfd' dari besaran kebutuhan gas Jatim sebanyak 872 'mmscfd'," katanya. Di sisi lain, lanjut dia, sampai sekarang total produksi gas di Jatim mencapai 457 "mmscfd". Besaran tersebut diperoleh dari sembilan Kelompok Kontrak Kerja Sama (K3S) yang berada di provinsi inI antara lain, Pertamina Hulu Energi WMO (Kodeco) dengan produksi paling besar antara 140 -170 mmsfd dan Santos Madura Offshore dengan produksi 110-120 "mmscfd". "Selain itu, ada Hess, Lapindo, Kangean Energy Indonesia, Camar Resources Canada (CRC), Santos Sampang, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java, PT Pertamina (eksplorasi produksi) Region Jabar, Jatim, dan Jateng," katanya.(*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026