Sidoarjo - Ratusan ikan nila milik petambak di Desa Permisan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jatim, mati mendadak sejak 15 hari lalu dengan kondisi ikah mati mengambang disertai bercak merah di sekujur tubuhnya. Umar Faruq, salah seorang petani tambak asal Desa Permisan, Kamis mengatakan, sekitar 200 petani tambak mengaku merugi, apalagi rata-rata ikan berumur tiga bulan dan memasuki masa panen, namun tiba-tiba mati mendadak. "Kematian ikan merata, total sekitar 10 ton dengan total tambak di Permisan seluas 875 hektare," kataya. Ia mengaku merugi hingga Rp90 juta dengan asumsi harga ikan di pasaran sebesar Rp9 ribu per kilogram untuk jenis ikan nila. "Kami memperkirakan kematian ikan disebabkan buruknya kualitas air yang digunakan mengaliri tambak tersebut," katanya. Kualitas air sungai buruk, katanya, tercemar aliran air diduga berasal dari lumpur Lapindo. Namun, hingga kini tak ada penelitian yang memastikan aliran lumpur Lapindo yang mencemari tambak warga. Menurut Umar, selama ini ikan nila dianggap paling kebal terhadap pencemaran air sungai karena itu dirinya beralih berbudidaya ikan nila, setelah ikan bandeng dan udang yang dibudayakannya mati serta pertumbuhannya lambat. Menanggapi masalah ini, Kepala Seksi Pengendalian Mutu Air pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sidoarjo Alfi Handayani menduga kematian ikan karena petani tambak tak pernah mereklamasi tambaknya sehingga terjadi kotoran ikan dan sisa makanan menumpuk dan meracuni ikan. "Terjadi infeksi primer, bakteri cepat berkembang saat ikan terluka," katanya. Seharusnya, lanjut dia, petani secara rutin mereklamasi tambak secara rutin untuk membersihkan kotoran dan sisa makanan. "Namun, yang terjadi saat ini usai panen petani tambak langsung menebar benih sehingga persiapan lahan tambak tak sempurna yang memicu berkembangnya penyakit dan bakteri yang dapat merusak tumbuh kembang ikan," katanya. Selain itu, ia menyarankan para petambak membuat tandon air untuk menyaring air sungai menuju tambak warga. Di antaranya dengan menanam mangrove dan rumput laut sebagai biofilter yang untuk memperbaiki kualitas air yang mengalir ke tambak warga. Ia juga membantah jika air lumpur Lapindo yang menyebabkan kematian ikan nila di Permisan tersebut karena konsentrasi garam dalam air lumpur Lapindo mencapai 20 ppt atau 20 gram per liter dan aman untuk budidaya ikan nila.
Berita Terkait
Disnakkeswan cari penyebab puluhan babi mati mendadak di Pasuruan
11 Februari 2025 12:44
Ribuan ikan keramba di Telaga Ngebel mati mendadak
7 Februari 2025 08:37
Diduga PMK, empat sapi di Ponorogo mati mendadak
2 Januari 2025 18:44
Sapi mati mendadak, Puskeswan RPH Kota Batu ambil sampel organ
21 Agustus 2024 19:50
Pemkab Kediri kaji penyebab kematian ternak warga
5 Juni 2024 01:53
Disnak Situbondo: Sapi mati karena perut kembung
7 Februari 2020 14:59
