Warga Talok Bojonegoro Panen "Ale"

id bendung gerak, bengawan solo, balai besar, kekeringan, gajah mungkur, banjir, kekeringan, antarajatim

Warga Talok Bojonegoro Panen

Bojonegoro - Puluhan warga Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), dalam dua bulan terakhir, panen "ale" yang ditanam di pasir Bengawan Solo di desa setempat.

"Panen berlangsung setiap hari, sebab setiap penanam ale membuat lima buah lubang di pasir yang ditanami ale," kata Amin (43) petani ale yang memanen ale bersama istrinya, Ngaisah (34), Rabu.

Ditemui di tepian Bengawan Solo di desa setempat, Amin menjelaskan, pada musim kemarau ini, petani ale di desa setempat, bisa menikmati panen ale secara normal. Berbeda dengan musim kemarau yang lalu, para petani kesulitan menanam ale, sebab air Bengawan Solo sering meninggi.

Akibatnya, lanjutnya, pasir yang dimanfaatkan untuk menanam ale tergenang air, sehingga warga tidak bisa menanam ale."Pada musim kemarau lalu, warga disini kesulitan memproduksi ale, juga kecambah," kata Kasinah (65), petani ale lainnya, menambahkan.

Menurut Kasinah juga Kasiyah (68), dua bersaudara yang mengaku sudah puluhan tahun, menjadi petani ale, pada musim kemarau tahun ini, harga ale lamtoro gung cukup bagus Rp7.000/kg dan ale kemplang mencapai Rp30.000/kg,
Di lahan berpasir Bengawan Solo di desa setempat, warga menanam ale lamtoro gung, selain juga menanam ale kemplang yang bahannya dari biji pohon klampis dan kecambah yang bahannya dari kedelai.

"Setelah satu lubang dipanen, kemudian ditanami lagi dan disiram dengan air setiap hari. Begitu seterusnya, dengan masa panen sekitar lima hari," jelas Ngaisah, menambahkan.

Mengenai bahan bakunya, tidaklah terlalu sulit, sebab para petani ale di wilayah setempat, mendapatkan bahan pasokan ale dari para pedagang yang langsung datang ke lokasi. Harga bahan biji lamtoro gung Rp6.000/kg dan biji ale kemplang Rp15.000/kg.

Di Bojonegoro, ale lamtoro gung dikenal untuk bahan lalapan, juga merupakan menu sayur nasi pecel. Sedangkan ale kemplang, dimanfaatkan sebagai campuran sayur lodeh. "Warga di sini membuat ale sudah turun temurun," papar Kasinah, menjelaskan.

Menurut Amin, Kasinah dan Kasiyah, pendapatan para petani ale pada musim kemarau tahun ini cukup bagus, bisa berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu setiap kali panen. Dengan pemasaran ale mulai di pasar lokal Kecamatan Kalitidu, Ngasem, Purwosari, Padangan, hingga Cepu, Jawa Tengah.

"Menjual ale sangat mudah, hanya dalam dua jam ale satu karung habis, sebab pembelinya pedagang pracangan," kata Amin, menjelaskan.
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar