Mencicipi Bakso Bakar Pak Man, salah satu kuliner legendaris Kota Malang

id Bakso Bakar Pak Man,Bakso Bakar Pak Man Malang,Pak Man

Mencicipi Bakso Bakar Pak Man, salah satu kuliner legendaris Kota Malang

Bakso Bakar Pak Man. (Vicki Febrianto)

Bakso bakar yang dijual, rasanya tidak pernah berubah. Tetap enak seperti dahulu, itu yang membuat saya menjadi pelanggan setia di sini

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Salah satu kuliner yang dijajakan hingga di setiap sudut Kota Malang, adalah bakso. Ya, kuliner yang dibuat dari daging sapi dan berbentuk bola-bola kecil maupun besar, menjadi salah satu makanan wajib di Bumi Arema.

Jajanan bakso baik di warung, restoran, atau bahkan bakso gerobak dorong hampir ditemui di setiap sudut Kota Malang. Bakso merupakan salah satu kuliner yang digemari masyarakat di kota pendidikan itu.

Biasanya, bakso yang dijajakan adalah bakso rebus yang dilengkapi berbagai pelengkap seperti mie, soun, pangsit goreng, tahu, dan lainnya. Kombinasi antara kuah daging sapi serta pelengkap tersebut, cocok dinikmati saat udara dingin.

Penikmat bakso, biasanya hanya tinggal menambahkan saos tomat, cabai, dan kecap untuk membuat makanan itu terasa lebih mantap di lidah. Namun, penjaja bakso di Kota Malang melihat peluang lain.

Salah satu orang yang melihat peluang untuk menjajakan bakso dengan cara lain adalah Suparman (83), pemilik Bakso Bakar Pak Man. Ia mulai menjajakan bakso bakar mulai tahun 1997 di sebelah selatan Pasar Besar Malang, atau yang biasa dikenal dengan Kidul Pasar.

"Saya memulai menjual bakso sejak tahun 1955, awalnya jual cilok (sejenis bakso berbahan baku tapioka dengan ukuran kecil) di Situbondo, kalau bakso bakar mulai 1997 itu," terang Suparman.

Saat itu, lanjut Pak Man, banyak perjuangan yang harus ditempuh olehnya hanya untuk sekedar berjualan bakso. Mulai dari orang-orang yang memanfaatkan tenaganya tanpa membayar upah, hingga dituduh menyebabkan sepinya bisnis jual beli alat-alat dapur.

Jatuh bangun Pak Man untuk berdagang, membuatnya tidak menyerah begitu saja. Mulai tahun 1965, Ia memutuskan untuk pindah ke Kota Malang dan tetap bergelut dengan bakso. Mulai bakso pikul, hingga Ia membuka warung di pinggir jalan.

Saat ini, bakso bakar Pak Man mengontrak satu tempat di Jalan Diponegoro Nomor 19, Kota Malang.

 

Suparman (83) atau yang biasa dikenal Pak Man, pemilik Bakso Bakar Pak Man, di Kota Malang, Jawa Timur. (Vicki Febrianto)


Apa yang membuat Bakso Bakar Pak Man berbeda dengan beberapa tempat lain yang menjual makanan serupa?

Salah seorang pelanggan Bakso Bakar Pak Man, Mutia Khairunissa (30) mengatakan bahwa konsistensi rasa yang disajikan, membuatnya jatuh cinta dengan Bakso Bakar Pak Man. Ia mengingat betul pada saat Pak Man masih berjualan di wilayah Kidul Pasar, Kota Malang.

"Bakso bakar yang dijual, rasanya tidak pernah berubah. Tetap enak seperti dahulu, itu yang membuat saya menjadi pelanggan setia di sini," kata Mutia.

Aroma bakso daging sapi yang dibakar, ditambah dengan kecap, seolah memanggil para pelanggan untuk mampir dan mencicipi kuliner tersebut. Sebagai pelengkap, Bakso Bakar Pak Man menyediakan kuah dan soun secara gratis bagi pelanggannya.

Balutan kecap di tiap bakso yang dijual dengan harga Rp3.000 per biji, seolah menyatu dengan daging sapi. Biasanya, para pelanggan akan memesan satu porsi bakso bakar dengan harga Rp30.000 per porsi.

Bakso Bakar Pak Man disajikan dalam rasa pedas, sedang, dan tidak pedas. Bagi pecinta makanan pedas, akan menikmati sensasi pedas bercampur gurih, serta manis kecap dan aroma daging bakar.

Rasa-rasa unik itu, akan semakin nikmat saat pelanggan mencicipi kuah bakso yang ringan namun gurih dan membuat ketagihan. Perpaduan tersebut, menjadikan Bakso Bakar Pak Man berjaya selama 22 tahun itu.

Bakso Bakar Pak Man bukan hanya terkenal bagi masyarakat Kota Malang saja. Akan tetapi, banyak pelanggan setianya, berasal dari berbagai daerah. Mereka kebanyakan  wisatawan yang ingin menjajal kuliner khas Kota Malang. 

Jika sedang berkunjung ke Kota Malang, silahkan coba Bakso Bakar Pak Man!

Pewarta :
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar