Nenek tunanetra kumpulkan uang dari memijat untuk biaya berobat anak

id nenek jombang,nenek memijat,Nenek tunanetra jombang

Nenek tunanetra kumpulkan uang dari memijat untuk biaya berobat anak

Warga mengantarkan makanan untuk nenek Muntiyah di rumahnya, Jumat (23/8/2019). (ANTARA Jatim/Syaiful Arif)

Jombang (ANTARA) - Seorang warga miskin penyandang tunanetra di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, harus berjuang sendiri mencari biaya berobat anaknya yang terkena kanker dan hidup sebatang kara. 

Sebagai penyandang tunanetra, Muntiyah (63) warga Dusun Puton RT 04 RW 002 Desa Puton, Kecamatan Diwek, Jombang, ini, hanya memiliki keahlian sebagai tukang pijat. 

Uang hasil dari memijat itulah yang dia gunakan untuk biaya berobat anak semata wayangnya, Slamet (22), yang sudah seminggu ini terbaring di RSUD Jombang karena terkena penyakit kanker. 

Setahun lalu, Slamet sudah menjalani beberapa kali pengobatan bahkan hingga kemoterapi di Surabaya.

"Ya biayanya hasil dari memijat. Ada orang yang kasih Rp10 ribu atau Rp20 ribu, ya saya terima, saya kumpulkan setiap hari buat biaya anak saya berobat," kata Muntiyah saat ditemui ANTARA di rumahnya, Jumat (23/8). 

Selama anaknya menjalani rawat inap di rumah sakit, nenek Muntiyah hidup seorang diri di rumahnya yang berukuran 4x6 meter persegi. 

Beruntung warga sekitar tempat tinggalnya mau membantu dengan memberi bantuan pangan atau sekadar menengok untuk memastikan kondisi janda satu anak ini. 

"Biasanya tinggal sama anak saya satu-satunya. Tapi, sekarang sendirian, karena sudah seminggu ini dirawat di rumah sakit. Kata dokter kena kanker," jelas Muntiyah. 

"Di sini saya tidak punya kerabat sama sekali, hanya sama anak saya. Alhamdulillah banyak orang baik di sekitar sini yang sering membantu saya, kasih beras atau makan," tambahnya. 

Terpisah, Ketua RT setempat Pa'i menuturkan bahwa sebelum suaminya meninggal dunia puluhan tahun lalu, penglihatan nenek Muntiyah masih normal. Namun, karena suatu penyebab kedua matanya mengalami kebutaan. 

"Saat anaknya masih kecil, nenek Muntiyah masih bisa melihat. Dia kerja di Surabaya dulu, tapi gak ngerti kenapa tahu-tahu matanya sakit dan mengalami kebutaan kurang lebih sudah 14 tahun ini," katanya saat menjenguk nenek Muntiyah di rumahnya. 

Setelah tidak bisa melihat, praktis untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama anaknya, nenek Muntiyah menjadi tukang pijat dengan penghasilan yang tidak menentu. 

Pa'i mengatakan kondisi nenek Muntiyah saat ini hidup sebatang kara, lantaran anak yang merawat dirinya selama ini terbaring di rumah sakit karena mengidap penyakit kanker. 

"Yang jaga dan ngerawat ya tetangganya. Kalau anaknya di rumah sakit ada yang jaga dua orang dari warga sini," ungkapnya. 

Menurut Pa'i, kondisi nenek Muntiyah ini sudah dilaporkan ke pihak desa setempat, namun hingga kini belum ada perhatian. "Sudah-sudah tahu pihak desanya, tapi belum ada perhatian," pungkasnya. 

Sementara salah seorang warga, Supinah, menjelaskan selama anak nenek Muntiyah dirawat di rumah sakit, dirinya bersama warga lainnya saling bergantian untuk merawat atau sekadar memberi makan. 

"Kalau malam biasanya saya jenguk dan saya suruh nutup pintunya kalau sudah malam. Takutnya ada orang gak baik masuk rumah. Untuk makan ya kita tetangga gantian, kasihan hidup sendiri gak punya saudara di sini," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar