Berwisata di Huawei Songshan Lake R&D Campus (Video)

id Wakil Konsul Jenderal RRT di Surabaya, Liu Qiang, konjen china di surabaya, perang dagang china-as, chengdu, xi'an, huawei, terracotta army, dongguan, guangzhou, guangdong, surabaya

Berwisata di Huawei Songshan Lake R&D Campus (Video)

(Foto Antarajatim/Chandra HN)

Surabaya (ANTARA) - Huawei Technologies Co. Ltd adalah perusahaan pemasok perangkat telekomunikasi dan jaringan komunikasi terbesar di China dan dunia yang didirikan pada tahun 1988 oleh Ren Zhengfei, yang mengkhususkan pada penelitian dan pengembangan (litbang), produksi dan pemasaran perangkat-perangkat telekomunikasi dan menyediakan solusi bagi operator penyelenggara telekomunikasi.

Huawei melayani 35 dari 50 operator telekomunikasi teratas dan menginvestasikan 10 persen dari pendapatan tahunannya pada litbang. Selain kantor-kantor tersebar di Shenzhen, Shanghai, Beijing, Nanjing, Xi’an, Chengdu, dan Wuhan di China, Huawei juga memiliki pusat litbang di Stockholm, Swedia, Dallas dan Silicon Valley, Amerika Serikat, Bangalore, India, Ferbane di Offaly, Irlandia, dan Moskow, Rusia.

Kita bahas sekarang ini ialah salah satu pusat litbang terbaru Huawei Songshan Lake R&D Campus di Guangdong. Rombongan media yang terdiri atas jurnalis dan fotografer asal Surabaya dan seorang dari Semarang awal Juli lalu menikmati pusat litbang yang dibangun dengan arsitektur dan lingkungan layaknya seperti di Eropa.

Tidak ada kendaraan bermotor di sini, untuk kepentingan transportasi tersedia "shuttle train" yang berwarna merah tua atau marun perpadu garis hitam dan warna emas. Maklum pusat litbang ini dikondisikan seperti kota mandiri. Segala kebutuhan bagi sekitar 15.000 peneliti tersedia secara mandiri.

Puslitbang di lahan seluas 1.348 hektare di Guangdong itu mulai beroperasi pada Agustus 2018 layaknya resort. "Tidak sembarang orang bisa masuk sini," tegas pemandu kami yang datang dari kantor Huawei di Shenzhen. Mereka yang hendak bertamu harus mengurus izin jauh-jauh hari. Tujuannya, aktivitas pekerja di area tersebut tidak terganggu.
 (Foto Antarajatim/Chandra HN)

Pengunjung tidak merasakan berada di Negeri Panda, seluruh bangunan yang ada berarsitektur dan khas Eropa, di mana pada bagian tengah mengalir sungai dan danau alami seluas 4 hektare, alunan musik klasik berkumandang sepanjang kawasan, sehingga pengunjung berasa dengan suasana di Benua Biru.

Pemandangan di kanan dan kiri adalah deretan bangunan khas Benua Biru. Sebagian besar mirip kastil. Rumput hijau dan patung-patung bergaya Renaissance yang menghiasi taman-taman luas di kanan-kiri gedung sukses mengecoh pandangan, membuat kita lupa sedang berada di Tiongkok.

"Ini kantor manajemen dan puslitbang Huawei. Suasana dan bangunan khas Eropa, karena pendiri Huawei (Ren Zhengfei) terkesan dengan Benua Biru, maka imajinasi tentang Eropa ia realisasikan di sini," kata pemandu yang mendampingi kami hari itu.

Sebagian orang, menurut dia, menjuluki puslitbang tersebut sebagai Kampung Huawei. Tapi, kompleks itu jauh dari kesan kampung. Jalanan luas, sungai, dan danau buatan yang sengaja dihadirkan di sana menambah kesan elite area tersebut.

Karena bekerja di puslitbang membutuhkan konsentrasi tinggi dan ketekunan, Huawei menghadirkan titik-titik pemecah ketegangan. Misalnya, tempat nge-gym, perpustakaan, kafe, dan minimarket atau toko swalayan hingga rumah makan maupun perpustakaan. Dari sini teknologi tinggi semacam 5G tercipta.

Video Oleh Chandra HN
 
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar