PP Muhammadiyah: tidak perlu mobilisasi massa sikapi hasil Pemilu

id Haedar nashir, pp muhammadiyah, pemilu, people power, ums

PP Muhammadiyah: tidak perlu mobilisasi massa sikapi hasil Pemilu

Ketum PP Muhammadiyah KH Haedar Nashir bersama Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak dan Rektor UM Surabaya Dr Sukadiono meresmikan pembangunan gedung 31 lantai di kampus setempat, Selasa. (Humas UM Surabaya)

Tidak perlu mobilisasi massa. Kasihan rakyat yang setahun ini sudah mengerahkan pikiran dan tenaganya
Surabaya (ANTARA) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH Haedar Nashir mengimbau semua pihak tidak memobilisasi massa dalam menyikapi hasil Pemilu 2019 ketika diumumkan KPU 22 Mei nanti.

"Tidak perlu mobilisasi massa. Kasihan rakyat yang setahun ini sudah mengerahkan pikiran dan tenaganya. Insyaallah semua berjalan dengan baik," kata Haedar saat meletakkan batu pertama pembangunan gedung 31 lantai Universitas Muhammadiyah Surabaya, Selasa.

Haedar mengimbau untuk elit politik yang ikut dalam Pemilu menyelesaikan persoalan melalui proses hukum yang ada dan tidak perlu mengerahkan massa.

"Pak Amien (Rais) dan para reformis, ketika amandemen UUD 1945, mereka pelopor Indonesia jadi negara hukum. Oleh karena itu saya percaya semua elit bangsa dan negara muaranya menyelesaikan masalah pada proses hukum," ujarnya.

Menurutnya kemajuan bangsa Indonesia itu jauh di atas kepentingan apapun. Untuk itu, dia mengajak masyarakat menebar pesan bahwa setelah pemungutan suara pada 17 April kembali bekerja lagi, produktif, bersatu dan menatap masa depan untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

"Kami sudah mengirimkan edaran untuk warga Muhammadiyah jadilah warga negara yang "uswah hasanah" yakni jadi teladan baik bagi masyarakat sekitar. Bahwa Pemilu sudah selesai, mari berjabat tangan kembali, lalu kita terima hasilnya dengan jiwa besar," katanya.

Bagi yang menang dalam kontestasi Pemilu, Haedar meminta untuk tetap rendah hati dan menunaikan amanah dengan baik. Sementara bagi yang belum memperoleh mandat harus berjiwa besar dan bekerja untuk bangsa.

Dia mengungkapkan, pada Senin (22/4) malam, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengundang tokoh organisasi masyarakat untuk mengawal Pemilu sampai pengumuman 22 Mei, dimana KPU, Bawaslu, MK berjalan dengan jujur adil transparan dan akuntabel.

Hal kedua yang disampaikan Wapres JK ialah sengketa Pemilu harus diselesaikan lewat proses yang sudah ditetapkan di konstitusi.

"Ketiga agar masyarakat untuk bersatu kembali di tengah perbedaan di massa pemilu. Ada perbedaan soal angka dan sebagainya, kami percaya KPU, Bawaslu dan konstitusi akan menjadi satu-satunya tempat untuk menyelesaikan persengketaan," ucapnya.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar