Kediri (ANTARA) - Sebanyak 200 orang santri putra dan putri dari berbagai pondok pesantren se-Jawa Timur berkumpul di Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah, Kota Kediri, mengikuti kegiatan olimpiade kitab kuning yang diselenggarakan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI).
"Kegiatan ini kami selenggarakan dengan harapan mempererat jalinan silaturahim dengan pengurus RMI se-Jatim, sekaligus ingin menunjukkan bahwa kitab kuning, kitab salaf ini juga menjawab kebutuhan sehari-hari. Jadi, di kitab kuning ini semua ada," kata Wakil Ketua RMI Jatim KH Melvien Zainul Asyiqien di Kediri, Sabtu.
Ia mengatakan, kegiatan ini diikuti perwakilan dari pondok pesantren se-Jatim, yang terdiri santri putra dan putri. Setiap kelompok santri akan membaca kitab kuning, sekaligus memberi makna yang juga disesuaikan dengan masalah zaman sekarang.
"Santri membaca, memberi makna, tapi ada nilai lebihnya yakni bagian tema. Kami sesuaikan dengan kekinian, artinya kendati kitab ini sudah berumur ratusan tahun yang lalu dikarang para ulama, kitab ini tidak ketinggalam zaman menghadapi permasalahan di dunia," kata pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah, Kota Kediri tersebut.
Untuk kitab yang dibaca, Gus Iing, sapaan akrabnya, mengatakan adalah Fathul Qorib dalam hukum Islam dan Bulughul Maram.
Kitab itu juga selalu dikaji di pondok pesantren. Para peserta akan diuji oleh panelis yang sudah siap dalam olimpiade tersebut. Para panelis juga sosok yang sangat paham dengan isi kitab tersebut, sehingga akan menguji kemampuan para peserta.
Ia sangat berharap para peserta juga akan semakin paham dengan isi kitab yang dijadikan rujukan dalam olimpiade itu. Terlebih lagi dikaitkan dengan isu kekinian, sehingga para santri lebih memahami bagaimana mengatasi masalah jual beli lewat daring, hukum indeks saham dan berbagai masalah saat ini.
Ia mengatakan, kegiatan ini baru dilakukan RMI dan ke depan diharapkan bisa diselenggarakan lagi dengan jumlah peserta yang semakin banyak.
Qoda, salah seorang peserta asal putri asal pondok pesantren di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, mengaku belum lama menyiapkan diri untuk menghadapi olimpiade ini.
Ia sangat senang ikut acara ini, sebab bertemu dengan banyak santri putri dari berbagai ponpes di Jatim.
"Saya sebelumnya mempersiapkan diri dengan belajar, musyawarah. Saya juga bertemu dengan banyak santri putri lainnya, mereka dari jauh-jauh jadi senang saja," kata perempuan yang juga masih menempuh pendidikan di IAIN Kediri tersebut.
