Dubes Djauhari Terharu Mars 'Syubbanul Wathon' di China

id dubes china,nahdlatul ulama,Djauhari Oratmangun

Dubes Djauhari Terharu Mars 'Syubbanul Wathon' di China

Dubes RI untuk China Djauhari Oratmangun didampingi Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj saat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama jajaran PCINU China di KBRI Beijing, Rabu (16/5). (Foto M. Irfan Ilmie)

Bait terakhir dari lagu ini terasa sampai ke dalam hati dan sangat mengena
Beijing (Antara) - Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun merasa terharu saat mendengarkan mars "Syubbanul Wathon" (Cinta Tanah Air) yang dinyanyikan jajaran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) setempat di Kedutaan Besar RI di Beijing, Rabu.

"Bait terakhir dari lagu ini terasa sampai ke dalam hati dan sangat mengena," ujarnya mengenai lirik terakhir mars yang berbunyi "Bangkitlah hai bangsaku! Indonesia Negeriku, Engkau Panji Martabatku, Siapa datang mengancammu, akan binasa di bawah dulimu!" yang dinyanyikan setelah lagu "Indonesia Raya" itu.

Ia mengajak jajaran PCINU China bekerja sama dengan KBRI Beijing dalam mendiseminasi nilai-nilai Islam yang moderat.

Dubes juga berharap bahwa kegiatan-kegiatan PCINU China bisa menjadi ajang promosi sosial dan budaya Nusantara sekaligus menjadi jembatan yang memperkokoh hubungan Indonesia dengan China dan hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Menurut dia, pemerintah Indonesia telah mengakui perjuangan para ulama dan santri dalam memerdekakan Republik Indonesia dengan keluarnya Keputusan Presiden No 22 Tahun 2015 tentang Peringatan Hari Santri.

"Tanpa Resolusi Jihad NU tidak akan pernah ada peristiwa 10 November 1945," ujar mantan Dubes RI untuk Rusia tersebut.

Kepada jajaran PCINU China yang merupakan kalangan pelajar asal Indonesia, Djauhari mendorong untuk belajar tentang bangsa China yang bisa bertahan hingga ribuan tahun.

"Kita pernah punya Sriwijaya, pernah punya Majapahit, pernah punya Singosari. Jangan sampai kita juga mengatakan hal yang sama untuk Indonesia di masa mendatang. Kita ingin merayakan HUT RI ke-100, ke-200, 300, 400, 500, dan seterusnya. Tiongkok sudah ribuan tahun bisa, kenapa kita tidak? Oleh karenanya Warga NU yang berada di Tiongkok bisa belajar dari negara ini untuk bisa tetap merekatkan NKRI," ujarnya menambahkan.

Acara yang digelar di KBRI Beijing itu juga dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj dan jajaran pengurus.

Pembacaan ikrar PCINU China juga mengisi acara bertajuk "Silaturahmi PBNU dengan Warga NU Tiongkok" tersebut.

Selain KBRI sebagai fasilitator, acara tersebut juga didukung oleh Lingkar Pengajian Beijing. (*)
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar