"Polisi Rasa Guru" Ada di Situbondo (Video)

id Polisi Situbondo mengajar,sekolah terpencil situbondo

Brigadir Pol David Damayandi saat mengajar di SD terpencil di Situbondo. (Antarajatim/ Novi H)

Selain itu, yang melatarbelakangi kepedulian kepolisian untuk melaksanakan program inovasi, yaitu `Propesi` adalah munculnya kesadaran dari kami melakukan pendekatan kepada masyarakat yang berbasis pendidikan kepada anak-anak, terutama siswa SD yang mengalami hambatan, baik letak geografis dan sarana sekolah dan alat pendidikan
Situbondo (Antaranews Jatim) - "Polisi rasa guru". Mungkin kalimat inilah yang tepat disandang oleh Brigadir Pol David Damayandi, anggota Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polres Situbondo, Jawa Timur.

Dikatakan sebagai "polisi rasa guru", karena polisi ini memiliki tugas tambahan selain melaksanakan tugas pokok Polri juga melayani masyarakat dalam penegakan hukum, yakni mengajar di sekolah dasar di daerah terpencil.

Tugas tambahan mengajar di sekolah dasar, khususnya di daerah terpencil, sudah menjadi program di Kepolisian Resor Situbondo, sejak pertengahan 2017, yaitu Program Peduli Sekolah Terpencil atau disingkat "Propesi".

Dalam satu minggu satu kali, Brigadir David harus mengajar di SD Negeri 8 Filial Curah Tatal, Kecamatan Arjasa yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Situbondo.

Anggota Polri ini, selain mendapatkan tugas khsusus dari atasannya, Kapolres lewat Kasat Binmas, untuk mengajar layaknya seorang guru, juga karena secara pribadi merasa prihatin dengan pendidikan sekolah dasar di daerah terpencil.

Ia termotivasi dan merasa terdorong untuk meluangkan waktu mengajar di sekolah dasar di Dusun Cobbuk, Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, itu karena di sekolah tersebut hanya ada satu guru honorer.

"Selain itu, saya secara pribadi terenyuh karena 32 siswa dan siswi kelas satu hingga kelas enam SDN 8 Filial Curah Tatal hanya satu tanaga pendidik. Saya senang dan bangga karena semua siswa terlihat semangat untuk belajar di sekolah," kata Brigadir David.

David menceritakan, sejak pertama mengajar di sekolah dasar di daerah terpencil itu bukan malah mendapatkan pujian, kendati dirinya tidak mengharapkannya. Namun anggota Sat Binmas Polres Situbondo ini kerap mendapatkan cibiran dari sejumlah orang lewat media sosial.

"Cibiran itu sudah biasa kami terima, tetapi yang pasti secara pribadi melaksanakan tugas ikhlas. Dan kami secara lembaga memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat," tuturnya.

Untuk mencapai SD terpencil yang lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso, setiap satu minggu satu kali ia harus menempuh perjalanan hampir dua jam, kendati dari perkotaan sekolah tersebut hanya berjarak sekitar 30 kilometer.

Membutuhkan waktu hingga hampir dua jam, karena akses jalan menuju daerah pegunungan itu sangatlah sulit, dan bahkan saat musim hujan di jalan menuju SD filial itu kerap terjadi longsor.

Selain mengajar di sekolah dasar, di hari yang sama, Brigadir David juga terus mendorong siswa dan siswi di daerah terpencil itu untuk gemar membaca dengan mendirikan perpustakaan yang diberi nama "Teras Baca".

Dia mendirikan "Teras Baca" memanfaatkan bagunan kayu milik warga desa setempat yang selama ini dijadikan mushalla. Sehingga di siang dan sore hari bisa dijadikan tempat perpustakaan bagi anak-anak di daerah terpencil itu.

Sementara Kapolres Situbondo AKBP Sigit Dany Setiyono menyampaikan terlaksananya Program Peduli Sekolah Terpencil (Propesi) dilatarbelakangi keprihatinan Polres yang masih menemukan sekolah di daerah terpencil bangunan sekolahnya kurang repsentatif.

Dalam kegiatan Program Peduli Sekolah Terpencil itu, katanya, menyambangi sekolah-sekolah di daerah terpencil dengan memberikan bantuan kebutuhan sekolah, seperti seragam, sepatu dan buku serta peralatan sekolah lainnya.

Selain itu, yang melatarbelakangi kepedulian kepolisian untuk melaksanakan program inovasi, yaitu `Propesi` adalah munculnya kesadaran dari kami melakukan pendekatan kepada masyarakat yang berbasis pendidikan kepada anak-anak, terutama siswa SD yang mengalami hambatan, baik letak geografis dan sarana sekolah dan alat pendidikan.

Hal itulah yang "mengetuk" Polres setempat untuk melakukan tindakan-tindakan humanis. Karena, kepolisian saat ini sedang dituntut agar peka terhadap kebutuhan masyarakat yang sangat mendasar dan bisa disentuh oleh kepolisian secara humanis.

Namun di sisi lain, juga akan membangun kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian juga kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kemampuan terhadap keselamatan diri sejak usia dini.

Dengan melakukan pendekatan melalui Program Peduli Sekolah Terpencil, banyak hal yang bisa disentuh kepada masyarakat yaitu kesadaran terhadap pendidikan semakin tinggi.

Selain itu, polisi memberikan dorongan kepada masyarakat secara umum termasuk pemerintah daerah juga turut memberikan perhatian yang lebih ke sekolah yang berada di daerah terpencil.

Kegiatan dalam program ini, kami mengunjungi sekolah terpencil dan memenuhi kebutuhan sekolah siswa dan siswi. Seperti kebutuhan pakaian sekolah, karena hingga saat ini setelah sekian tahun Indonesia merdeka, ternyata masih ada ada siswa yang tidak menggunakan alas kaki (sepatu), tuturnya.

Program "Propesi" ini dilakukan juga karena masih ada beberapa sekolah dasar di daerah terpencil yang sangat memprihatinkan dan kurang repsentatif, karena bangunan sekolah dari kayu dan masih beralaskan tanah dan atap bocor dan sehingga berpotensi roboh.

Dalam pelaksanaan program ini, Polri juga bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan, pemerintah daerah, TNI dan dunia usaha yang ada.

Kapolres Situbondo AKBP Sigit Dany Setiyono berharap Program Polisi Peduli Sekolah Terpencil (Propesi) tetap berlanjut dan bahkan dikembangkan serta dapat menginspirasi semua pihak, baik regional Jawa Timur dan seluruh Indonesia untuk bisa memberikan perhatian pendidikan secara luas. (*)
Video Oleh Novi Husdinariyanto
 
Pewarta :
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar