Menteri Pertanian Akan Panen Padi Lahan Banjir

id banjir Bengawan Solo, lahan banjir, genangan banjir, tanaman padi, asuransi tanam tani padi,panen padi, padi lahan banjir

Menteri Pertanian Akan Panen Padi Lahan Banjir

Hamparan tanaman padi di Desa Temu, Kecamatan Kanor, Bojonegoro, yang masuk daerah rawan banjir luapan Bengawan Solo. (Hadi/Slamet Agus Sudarmojo.)

Bojonegoro (Antaranews Jatim) - Menteri Pertanian Amran Sulaiman, akan melakukan melakukan penanaman sekaligus panen tanaman padi di lahan banjiir luapan Bengawan Solo di Desa Kedungarum, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (22/1).

Camat Kanor, Bojonegoro Subiyono, di Bojonegoro, Minggu, menjelaskan kunjungan Menteri Pertanian Amran Sulaiman itu merupakan rangkaian kunjungan kerja ke berbagai daerah, selain di Bojonegoro, juga ke Semarang, Kudus dan Grobogan, Jawa Tengah.

Di Desa Kedungarum, Kecamatan Kanor, lanjut dia, Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga akan menyerahkan bantuan alat pertanian kepada para petani yang lahannya masuk daerah rawan banjir luapan Bengawan Solo.

"Bantuan alat pertaniannya saya tidak tahu persis," ujarnya.

Sesuai rencana, lanjut dia, acara panen tanaman padi juga dihadiri sejumlah pejabat dari Jawa Timur, termasuk Gubernur Jawa Timur.

Lebih lanjut ia menjelaskan di wilayahnya sekarang ini ada tanaman padi seluas 550 hektare siap panen dengan usia rata-rata 95 hari, bahkan sebagian tanaman padi sudah mulai panen yang lokasinya di sejumlah desa di lahan banjir luapan Bengawan Solo.

Meskipun sungai terpanjang di Jawa di daerahnya sempat meluap masuk melalui Kali Ingas, akan tetapi tanaman padi di wilayahnya lolos dari banjir.

"Para petani bergotong royong meninggikan tanggul Kali Ingas yang panjangnya sekitar 1 kilometer," ucapnya menambahkan.

Dari keterangan yang diperoleh luapan Bengawan Solo yang terjadi awal Januari lalu mengakibatkan tanaman padi gagal panen seluas 393 hektare dua bulan di Desa Kauman, Bumiayu, Tulungagung, Karangdayu, Kadungrejo dan Puncangarum, Kecamatan Baureno.

"Tapi petani memperoleh klaim asuransi dari PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebesar Rp6 juta per hektare. Sebab, tanaman padi yang gagal panen itu diasuransikan dengan membayar premi Rp36.000/hektare," kata Kasi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Bojonegoro Susana menambahkan.

Ia menambahkan di daerahnya tanaman padi di daerah rawan banjir yang ikut asuransi PT Jasindo pada 2017 luasnya mencapai 6.003,12 hektare dengan jumlah premi asuransi sebesar Rp159.501.960.

Seorang petani Desa Temu, Kecamatan Kanor, Bojonegoro Hadi menambahkan petani di desanya yang masuk daerah rawan banjir setelah panen tanaman padi tetap akan kembali menanam padi.

"Petani tetap menanam padi sifatnya spekulasi karena sudah menikmati panen tanaman padi. Ya kalau nanti tanaman padi dilanda banjir luapan Bengawan Solo tidak masalah," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar