Surabaya (Antara Jatim) - Pengamat bangunan cagar budaya sekaligus Direktur Sjarikat Poesaka Surabaya Freddy H. Istanto mengatakan jika makam Belanda di Peneleh dirawat, maka akan bernilai tinggi, bahkan tidak kalah dengan makam Pere Lachaise di Prancis.
Menurut Freddy di Surabaya, Selasa, pemerintah kota setempat tidak memiliki visi pelestarian bangunan dan situs cagar budaya. Sehingga banyak bangunan cagar budaya yang tidak terawat bahkan sebagian ada yang dibongkar oleh pemiliknya.
"Surabaya kota pahlawan, kota Sejarah. Orientasi pembangunannya jangan mengesampingkan nilai sejarah. Banyak gedung bertingkat bermunculan. Ini bisa mengancam eksistensi bangunan serta situs cagar budaya," katanya.
Menurut dia, makam Peneleh jika dirawat dengan baik akan jadi obyek wisata heritage. Ia mengatakan bahwa sudah ada desain makam Peneleh hasil desain pakar di Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), namun hingga saat ini belum ditindaklanjuti. "Tinggal eksekusi saja," katanya.
Pemerhati bangunan cagar budaya Kuncarsono mengatakan persoalan makam Peneleh sebaiknya dibahas secara mendalam oleh DPRD Surabaya. "Tentunya arah pembahasannya revitalisasi makam Peneleh," katanya.
Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji sebelumnya pada saat di makam Peneleh menilai bangunan cagar budaya berupa makam peninggalan Belanda di kawasan Peneleh kondisinya memprihatinkan karena tidak terawat.
"Kalau bisa anggaran itu jangan untuk perbaikan Jalan Tunjungan, mengebut penyelesaian box culvert saja. Tapi makam Belanda Peneleh ini harus juga mendapat perhatian, sentuhan pemkot," katanya.
Menurut dia, Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran Rp30 miliar untuk persiapan pelaksanaan Prepatory (Prepcom) 3 for UN Habitat III pada 25-27 Juli 2016. Belum lagi partisipasi banyak pihak melalui program corporate social responsibility (CSR).
Adapun peserta UN Habitat ada sekitar 6.000 orang dari sekitar 150 negara. Tentu, kata dia, akan ada peserta dari Belanda yang akan mengunjungi makan belanda di Jalan Makam Peneleh ini.
Armuji yang sudah duduk 4 periode di dewan ini minta pemkot memasang lampu penerangan, paving di makam Belanda di Peneleh. "Dipasang lampu biar tidak terkesan sangar, gelap, jangan sampai makam ini disalahgunakan orang. Dipaving supaya kalau hujan jalan dalam makam tetap bisa dilalui," katanya.
Makam Belanda Peneleh, kata Armuji, sudah tidak digunakan. Berbeda dengan makam Tionghoa yang bersebelahan dengan makam belanda di Kembang Kuning, Kecamatan Sawahan yang masih aktif hingga kini. (*)
Pengamat: Makam Belanda Peneleh Surabaya Bernilai Tinggi
Selasa, 14 Juni 2016 16:07 WIB
Pengamat bangunan cagar budaya sekaligus Direktur Sjarikat Poesaka Surabaya Freddy H. Istanto (Abdul Hakim)
Surabaya kota pahlawan, kota Sejarah. Orientasi pembangunannya jangan mengesampingkan nilai sejarah. Banyak gedung bertingkat bermunculan. Ini bisa mengancam eksistensi bangunan serta situs cagar budaya
