Malang (Antara Jatim) - Lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian dan Teknologi Industri Pertanian menemukan metode pengawetan pangan nontermal menggunakan sinar ultraviolet yang diaplikasikan ke roti tawar.
Ketua tim peneliti metode tersebut, Hudaibiyah Daulika Ilvani, Kamis mengakui sebelumnya metode pengawetan nontermal dengan sinar ultraviolet hanya diaplikasikan pada bahan pangan cair. Namun, setelah dilakukan penelitian, sinar ultraviolet juga bisa diaplikasikan pada bahan pangan padat.
"Selama ini roti tawar memiliki daya simpan sangat rendah. Invensi ini juga berkaitan dengan penggunaan teknik iradiasi yang mampu membuat roti tawar lebih higienis, ekonomis dan tanpa mempengaruhi kandungan gizi serta memperpanjang umur simpan," ujar Hudaibiyah.
Selain Hudaibiyah (THP, 2012), mahasiswa yang terlibat dalam penelitian itu adalah Indri Rosdiana (THP, 2011), Nurwinda Levitasari (TIP, 2011), Anik Haryanti (TIP, 2013) dan Viga Dwi Andrian (TIP, 2013). Penelitian kelima mahasiswa itu dibimbing Ketua Jurusan THP Dr Teti Estiasih dengan dana hibah Dikti sebesar Rp10,8 juta melalui program PKMP (Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian).
Lebih lanjut, Hudaibiyah mengatakan metode pengawetan roti tawar dengan teknik penyinaran sinar ultraviolet dilakukan dengan pembuatan roti tawar yang diberikan calcium propionate dan tanpa diberikan calcium propionate.
Selanjutnya, roti tawar dikemas dengan plastik PP (Poly Propilene) dengan ketebalan 0,3 mm. Kemudian roti tawar tersebut disinari dengan 2 faktor, yaitu daya lampu (15 watt dan 30 watt) dan lama penyinaran selama 4 menit, 6 menit, dan 8 menit.
Roti tawar dengan kombinasi dari faktor perlakuan tersebut, kemudian disimpan selama 5 hari, 8 hari dan 11 hari. Dan, proses selanjutnya dilakukan beberapa uji, yakni uji total kapang, kadar air, kadar abu, proksimat (lemak, protein, karbohidrat), pati, dan uji sensori (warna, tekstur, bau pori, jumlah kapang).
Pembuatan roti tawar dan penyinarannya membutuhkan waktu 1 hari, kemudian dilakukan penyimpanan selama 5 hari, 8 hari dan 11 hari. Lalu dilakukan beberapa uji lagi selama sepekan.
Ia mengatakan hasil penelitian ini merupakan penerapan teknologi aplikatif yang relatif mudah dalam pengaplikasiannya dan mudah dalam alatnya. Produk roti tawar yang dihasilkan mempunyai kualitas yang standar dan terbukti dapat diterima masyarakat.
Kandungan gizi roti tawar yang yang menggunakan metode tersebut, ujarnya, tidak melebihi standar gizi roti tawar pada umumnya, bahkan lebih baik dari kandungan gizinya.
"Produk roti tawar tanpa calcium propionate dengan penyinaran sinar ultraviolet yang menggunakan daya lampu 30 watt dengan lama penyinaran 8 menit ini, berdaya simpan lebih lama (11 hari) serta memiliki kualitas cukup baik dan sesuai standar SNI," ujarnya.(*)
