Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Penerapan kuliah dalam jaringan (daring) Fakultas llmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (Unej) pada awal semester genap yang menjelang Lebaran 2026 bertujuan untuk meringankan beban finansial mahasiswa terutama yang berasal dari luar daerah.
"Banyak mahasiswa FISIP yang berasal dari luar Jawa Timur, bahkan mahasiswa dari luar Pulau Jawa tercatat sekitar 10 persen dari total 3.600 mahasiswa FISIP. Sebagian besar dari Sumatera Utara dan Kalimantan," kata Dekan FISIP Unej Suyani Indriastuti di Jember, Jawa Timur, Kamis.
Ia mengatakan pihaknya mengeluarkan diskresi dengan melaksanakan kuliah daring sejak 23 Februari hingga 14 Maret 2026 karena jadwal masuk perkuliahan semester genap tahun ajaran 2025-2026 berdekatan dengan masa libur Hari Raya Idul Fitri.
"Saat ini semua mahasiswa menikmati libur semester ganjil dan sebagian besar mereka pulang ke kampung halamannya. Mereka baru kembali ke Jember untuk mengikuti perkuliahan semester genap pada 23 Februari 2026," tuturnya.
Menurutnya mahasiswa akan mengikuti perkuliahan selama tiga pekan saja dan setelah itu ada libur Lebaran, sehingga mereka kembali ke kampung halamannya lagi dengan konsekuensi biaya transportasi lebih mahal saat Lebaran.
"Dengan pertimbangan itu dan kuliah di FISIP kan lebih fleksibel, sehingga kami mengeluarkan surat edaran imbauan kuliah daring atau hybrid pada 23 Februari hingga 14 Maret 2026," katanya.
Apalagi kebijakan tersebut tidak melanggar aturan karena berdasarkan SE Rektor Unej menyebutkan bahwa pembelajaran dapat dilaksanakan secara daring maksimal 50 persen dari total pertemuan, sehingga pimpinan universitas menyetujui kebijakan FISIP.
Ia menjelaskan apabila ada mahasiswa asal Jember yang menginginkan kuliah secara luar jaringan (luring) dengan tatap muka maka pihak dosen bisa melaksanakan perkuliahan secara hybrid yakni luring dan daring secara bersamaan.
"Pelaksanaan perkuliahan daring dan hybrid harus tetap memenuhi kualitas dan memastikan capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK) terpenuhi, serta nanti kami tegaskan bahwa mahasiswa harus membuka kameranya saat kuliah daring berlangsung," ujarnya.
Sementara itu, Dosen Kesejahteraan Sosial FISIP Unej Kris Hendrijanto mengatakan ide kuliah daring tersebut muncul dari gagasan berdasarkan data yang dipaparkan pihak Rektorat bahwa penyumbang terbanyak kedua mahasiswa Unej berasal dari Sumatera Utara, setelah Jawa Timur.
"Mepetnya perkuliahan semester genap dengan libur Lebaran tentu akan membuat mahasiswa bolak balik kampung halaman, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan hal itu tentu memberatkan bagi orang tua mahasiswa," katanya.
Ia menilai kebijakan FISIP tersebut tidak hanya meringankan beban ekonomi, tetapi juga memberi dampak sosial berupa ketenangan dan kenyamanan kepada mahasiswa untuk berkumpul lebih lama dengan keluarga.
Sejumlah mahasiswa FISIP dari luar Pulau Jawa menyambut gembira kebijakan tersebut karena tidak harus bolak-balik ke Jember mengingat biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan ke kampung halaman tidak sedikit mencapai jutaan rupiah.
