Bagdad (Antara/AFP) - Sekitar 28.000 orang lari dari wilayah Tikrit saat pasukan Irak melawan kelompok Negara Islam dalam serangan besar-besaran untuk merebut kembali kota itu, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa. Keterlibatan milisi Syiah dalam gerakan itu, yang dijuluki upaya membalas pembantaian ratusan, terutama warga Syiah pada tahun lalu oleh IS, menimbulkan kekhawatiran akan pembunuhan aliran menyasar warga Arab Sunni. "Gerakan tentara di dan di sekitar Tikrit mengakibatkan pengungsian sekitar 28.000 orang ke Samarra," kata pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Kamis. "Laporan lapangan menunjukkan bahwa pengungsian tambahan terjadi dan banyak lagi keluarga terjebak di pos pemeriksaan," katanya. Warga Irak pengungsi baru itu bergabung dengan yang Badan Perpindahan Dunia katakan 2,5 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka di negara itu. Sekitar 30.000 anggota pasukan keamanan Irak dan pejuang sekutu melancarkan serangan untuk merebut kembali Tikrit pada Senin, yang terbesar dari jenisnya sejak IS menguasai wilayah luas pada Juni. Merebut kembali Tikrit, kota kelahiran mantan presiden Saddam Hussein -yang dibunuh dengan dukungan Amerika Serikat- dari pejuang, yang menguasainya lebih dari delapan bulan, menimbulkan tantangan besar bagi pasukan negara itu. Pembunuhan balas dendam aliran menyasar Arab Sunni menjadi pilihan gerakan pada masa lalu, yang melibatkan milisi Syiah, meningkatkan kekhawatiran bahwa hal sama mungkin terjadi di Tikrit.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026